Viral Orangutan Makan Sampah di Bengalon, BKSDA Kaltim Selamatkan dan Lepasliarkan ke Hutan Mesangat

15 hours ago 7

BONTANGPOST.ID – Video viral yang memperlihatkan seekor orangutan mengais sisa makanan di tumpukan sampah liar di tepi Jalan Poros Sangatta–Bengalon, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, memantik perhatian publik. Lokasi tersebut diketahui berada di jalur perlintasan orangutan yang habitat hutannya telah terfragmentasi akibat aktivitas tambang batu bara dan perkebunan sawit.

Menindaklanjuti video tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitra Conservation Action Network (CAN) dan Center for Orangutan Protection (COP) langsung melakukan penelusuran di lapangan. Upaya tersebut membuahkan hasil pada Rabu (27/1/2026), ketika satu individu orangutan berhasil ditemukan tidak jauh dari lokasi kejadian.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, memastikan keberadaan orangutan tersebut berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur berdasarkan penelusuran jejak digital serta informasi dari masyarakat.

“Berdasarkan video viral dan informasi lapangan, kami langsung mengirim tim Wildlife Rescue Unit (WRU) ke lokasi. Dipastikan aktivitas orangutan itu berada di Jalan Poros Sangatta–Bengalon,” ujar Ari, Selasa (3/2/2026).

Hasil pemeriksaan medis menyebutkan orangutan tersebut berjenis kelamin jantan dewasa dengan perkiraan usia 18–20 tahun. Pemeriksaan oleh tiga dokter hewan memastikan kondisi satwa dalam keadaan sehat dan masih memiliki sifat liar.

“Karena kondisinya sehat dan sifat liarnya masih kuat, kami memutuskan untuk segera melepasliarkannya ke habitat alaminya, yakni di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur,” jelasnya.

Ari menambahkan, proses penyelamatan dilakukan secepat mungkin karena keberadaan orangutan di sekitar jalan raya sangat berisiko.

“Lokasinya tidak layak bagi orangutan. Di sekitarnya ada jalan raya, kebun sawit, dan area tambang. Jika dibiarkan, sifat liarnya bisa semakin terdegradasi,” katanya.

Sementara itu, Founder sekaligus Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristanto, mengungkapkan bahwa lokasi tempat orangutan mengais makanan merupakan tempat pembuangan sampah liar yang telah lama digunakan masyarakat, bukan tempat pembuangan resmi.

“Di kiri dan kanan lokasi hutannya sudah habis. Sekitar 50 hingga 100 meter dari titik itu sudah merupakan area tambang. Berdasarkan keterangan warga, ini bukan pertama kalinya orangutan datang untuk mencari makan di sana,” ujarnya.

Paulinus menekankan, kebiasaan membuang sisa makanan di pinggir jalan dapat memicu perubahan perilaku satwa liar. Bau dan rasa makanan manusia membuat orangutan tertarik turun mendekati aktivitas manusia.

“Ketika orangutan sudah mengenali makanan manusia, dan sumber itu hilang, mereka berpotensi masuk ke permukiman atau turun ke jalan, yang tentu membahayakan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti dampak pembukaan lahan besar-besaran di sekitar kawasan tersebut yang menyebabkan berkurangnya habitat dan sumber pakan alami orangutan.

“Ketika habitat menyempit, satwa akan mencari sumber makanan paling mudah, salah satunya dari sampah,” pungkas Paulinus. (prokal)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |