XR Kaltim Soroti Ketergantungan Batu Bara Masih Besar, Wagub; Kebutuhan Diatur Pemerintah Pusat

1 week ago 29

BONTANGPOST.ID, Samarinda – Extinction Rebellion (XR) Kaltim Bunga Terung menilai proyek transisi energi nasional maupun agenda COP 30 di Belém, Brasil, belum mampu mengurangi ketergantungan Kalimantan Timur terhadap batu bara. Hal itu disampaikan XR Kaltim melalui keterangan resmi, Minggu (16/11/2025).

Dalam rilisnya, XR Kaltim menyebut isu transisi energi yang diusung pemerintah “bagus secara konsep, namun minim aksi nyata”. Meski Indonesia mengalokasikan anggaran besar untuk proyek transisi energi—sekitar USD 25–30 miliar hingga 2030—mereka menilai implementasi di lapangan justru menimbulkan persoalan baru.

Menurut XR Kaltim, proyek energi terbarukan kerap dijadikan alasan membuka tambang baru dan memperluas kawasan industri, termasuk tambang mineral, nikel, pasir silika, hingga batu bara. “Proyek-proyek ini bahkan merusak hutan dan memperparah eksploitasi sumber daya alam,” tulis mereka.

Kaltim sendiri disebut masih menjadi provinsi penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Produksi yang pada 2020 berada di 268 juta ton, meningkat menjadi 368 juta ton pada 2024 atau sekitar 44 persen produksi nasional.

XR Kaltim juga menyoroti deforestasi di Kaltim yang masih menjadi yang tertinggi secara nasional. Pada 2024, Kaltim kehilangan 44.483 hektare hutan, dengan Kutai Timur menjadi penyumbang terbesar, yakni 16.578 hektare. Ekspansi tambang batu bara dinilai menjadi pemicu utama.

Atas kondisi tersebut, XR Kaltim mengajukan tiga tuntutan. Pertama, menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil, termasuk pasokan batu bara untuk smelter nikel. Kedua, mengakhiri proyek transisi energi yang dinilai tidak adil dan merusak lingkungan. Ketiga, menjamin partisipasi masyarakat dan memberikan hak veto dalam setiap keputusan terkait transisi energi.

Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, menyatakan bahwa penggunaan batu bara tidak bisa dihentikan secara mendadak karena kebutuhan nasional sebagian besar berasal dari Kaltim.

“Kebutuhan batu bara itu diatur pusat, termasuk untuk menunjang PLTU di Pulau Jawa dan daerah lainnya,” ujarnya usai kegiatan Turnamen Pupuk Kaltim Golf Bontang (PGB) 2025, Minggu (16/11/2025).

Seno menegaskan pemerintah tetap berkomitmen mengurangi ketergantungan batu bara, namun harus dilakukan secara bertahap melalui pengembangan energi terbarukan.

“Sudah ada pembangunan PLTS, dan ke depan juga direncanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah,” pungkasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |