BONTANGPOST.ID, Bontang – Warga Kampung Timur RT 01, Kelurahan Kanaan, mengungkapkan longsor yang terjadi pada Kamis (15/1/2026) bukan kali pertama melanda wilayah tersebut.
Peristiwa serupa sebelumnya juga pernah terjadi saat aktivitas tambang galian C ilegal masih beroperasi di kawasan itu. Longsor terbaru berdampak pada lima rumah warga yang berada di sekitar bekas lokasi tambang, dengan jarak tebing hanya sekitar enam meter dari permukiman.
Salah seorang warga, Marmo (58), mengatakan longsor pernah terjadi pada Maret 2025 lalu. Namun saat itu dampaknya masih terbatas.
“Dulu pas puasa 2025 cuma longsor saja, itu pun kena bagian belakang rumah Bu Meri. Kalau sekarang sudah lima rumah yang terdampak,” ungkapnya, Jumat (16/1/2026).
Ia menyebut aktivitas tambang ilegal memang telah berhenti sejak inspeksi mendadak oleh Dinas ESDM dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur pada April 2025. Meski demikian, dampaknya masih dirasakan hingga kini.
“Dulu sebelum ada tambang, wilayah ini rimbun dan tidak pernah banjir. Setelah ada tambang, tiap hujan atau gerimis kami selalu waswas. Sekarang lumpur dan pasir masuk ke rumah warga,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Widiyanti. Ia menyebut lahan bekas tambang itu milik seorang pensiunan perusahaan besar di Bontang yang berdomisili di Perumahan HOP 4. Namun hingga kini, tidak ada itikad baik dari pemilik lahan untuk menemui warga terdampak.
“Tidak pernah duduk bersama warga mencari solusi. Seolah tidak ada tanggung jawab setelah dua kali longsor,” ucapnya.
Menurut Widiyanti, aktivitas penambangan seharusnya memperhitungkan dampak lingkungan, terutama aliran air dan kestabilan tanah di sekitar permukiman.
“Kalau mau menambang, harus dipikirkan dampaknya. Jangan hanya ambil untung, sementara kami yang menanggung akibatnya,” tegasnya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan langkah mitigasi, mengingat intensitas hujan masih tinggi. Mereka juga meminta penegasan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas tambang ilegal.
“Mayoritas warga di sini lansia. Tiap malam sulit tidur karena takut longsor susulan,” pungkas Widiyanti. (*)














































