BONTANGPOST.ID – Kondisi geografis Kabupaten Banjar tengah menghadapi tantangan serius seiring meluasnya banjir yang melanda wilayah tersebut. Salah satu titik dengan dampak terparah berada di RT 03 Desa Lok Baintan Dalam, Kecamatan Sungai Tabuk. Selama lebih dari sepekan, warga di kawasan ini harus bertahan di tengah kepungan air luapan Sungai Martapura hingga menyebabkan desa dalam kondisi terisolasi.
Akses transportasi darat menuju wilayah tersebut dilaporkan lumpuh total. Ketinggian air di badan jalan utama mencapai lebih dari setengah meter, membuat kendaraan bermotor tidak dapat melintas. Akibatnya, mobilitas warga—terutama anak sekolah dan para pekerja—sangat terhambat. Banjir juga menghentikan aktivitas perekonomian karena lahan persawahan dan perkebunan warga terendam sepenuhnya.
Data terbaru Pusdalops BPBD Kabupaten Banjar hingga awal Januari 2026 menunjukkan peningkatan signifikan wilayah terdampak. Tercatat sebanyak 135 desa dan kelurahan di 12 kecamatan kini terendam banjir. Seiring meluasnya genangan, jumlah warga terdampak mencapai lebih dari 135 ribu jiwa.
Wilayah dengan dampak terparah berada di Kecamatan Astambul, Sungai Tabuk, Martapura, Martapura Timur, dan Kertak Hanyar. Di kawasan tersebut, ketinggian air bervariasi dan terus menghambat aktivitas masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, warga mulai mengeluhkan persoalan kesehatan dan distribusi bantuan yang belum merata. Penyakit kulit seperti kutu air mulai banyak diderita warga, terutama lansia dan anak-anak, akibat terlalu lama terpapar air banjir. Bantuan dari pemerintah desa telah mulai disalurkan, namun jumlahnya dinilai masih terbatas dan belum menjangkau seluruh wilayah terpencil.
BPBD Kabupaten Banjar juga menaruh perhatian pada kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, dan balita, yang jumlahnya terus meningkat di lokasi terdampak. Meski di beberapa titik genangan dilaporkan mulai surut, secara keseluruhan wilayah terdampak banjir justru semakin meluas.
Pemerintah daerah kini terus melakukan pemantauan intensif serta kajian cepat untuk menentukan langkah penanganan darurat yang lebih efektif guna meringankan beban warga, baik di pengungsian maupun di desa-desa yang masih terisolasi. (prokal)














































