BONTANGPOST.ID, Bontang – Harapan tim Futsal Berbas Pantai Junior U-13 untuk tampil di turnamen Grand Champion AAFI Nasional di Bekasi Barat harus pupus. Meskipun sebelumnya keluar sebagai juara pada Playoff Antar Regional Asosiasi Akademi Futsal Indonesia (AAFI) Kaltim 2025, mereka tiba-tiba dinyatakan tidak lolos tanpa penjelasan resmi yang jelas.
Keputusan sepihak ini terjadi meski tim sudah tampil konsisten dan meraih 12 poin dari enam pertandingan, tertinggi di antara seluruh peserta. Tim berhasil mengalahkan BFA Penajam Paser Utara (PPU), Biang Laskar Boot Balikpapan, dan Futsal Family Balikpapan, serta mencatatkan beberapa kemenangan meyakinkan. Namun, menjelang keberangkatan, mereka mendapati bahwa mereka tidak lolos ke tingkat nasional.
Pelatih tim Hakim, menyesalkan tidak adanya transparansi dalam keputusan tersebut. Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah berkonsultasi dengan Ketua AAFI Kota Bontang yang juga Koordinator Kaltim, yang menegaskan bahwa jumlah pemain yang dibawa (16 pemain) diperbolehkan, meskipun regulasi AAFI hanya mengizinkan 14 pemain. Protes muncul setelah kompetisi selesai, yang dianggap sebagai salah satu alasan pembatalan keberangkatan tim.
Sementara Syarifuddin, Manajer tim, menjelaskan bahwa mereka juga mendapat keberatan terkait keabsahan Liga AAFI tingkat kota Bontang-Kutim yang dianggap tidak memenuhi syarat, karena jumlah peserta kurang. Padahal, dua tim memang mengundurkan diri sebelum kompetisi dimulai.
Para orangtua pun merasa dirugikan. Yeni, salah satu wali murid, menyayangkan keputusan yang mendadak ini, karena para orang tua telah mengeluarkan biaya sekitar Rp14 juta untuk mendukung keberangkatan tim.
“Anak saya menangis, mereka sudah yakin menang, tapi harus digugurkan dengan cara seperti ini. Ini mematahkan semangat anak-anak,” ujarnya.
Di sisi lain, Koordinator AAFI Kaltim Asrianto, membenarkan pembatalan tersebut. Ia menyebutkan bahwa meskipun tim Berbas Pantai memenangkan kompetisi tingkat Kota, jumlah peserta pada kategori U13 hanya lima tim, padahal regulasi AAFI mengharuskan minimal delapan tim untuk dapat melaju ke tingkat provinsi. Keputusan ini, menurutnya, bertujuan menghindari masalah di tingkat provinsi maupun nasional.
“Kalau dipaksakan, pasti akan jadi masalah. Tidak mungkin Futsal Family Balikpapan berdiam diri,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa meski sudah berusaha menawarkan pertandingan ulang, Futsal Family menolak dan tetap berpegang pada aturan yang ada.
Ke depan, Asrianto berjanji akan memperbaiki sistem kompetisi dan penyelenggaraan agar kejadian serupa tidak terulang. Ia mengakui bahwa penyelenggaraan kompetisi kali ini tidak maksimal karena waktu yang terbatas, mengingat ia baru dilantik sebagai Koordinator Kaltim pada akhir September 2025. (*)
















































