RDMP Balikpapan Resmi Beroperasi, Indonesia Hentikan Impor Solar Mulai Tahun Ini

2 weeks ago 32

BONTANGPOST.ID, Balikpapan – Indonesia menorehkan sejarah baru di sektor energi nasional dengan mulai beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek kilang terbesar sepanjang sejarah Indonesia ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kedaulatan dan kemandirian energi nasional, sekaligus menandai dihentikannya impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai tahun ini.

Pemerintah menegaskan, kebutuhan solar nasional kini sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri seiring beroperasinya RDMP Balikpapan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, impor solar tidak lagi dilakukan mulai 2026.

“Mulai tahun ini impor solar dihentikan. Jika masih ada pasokan yang masuk di awal tahun, itu merupakan sisa kontrak impor tahun sebelumnya,” ujar Bahlil sesaat sebelum kedatangan Presiden.

Peresmian RDMP Balikpapan memiliki makna historis. Terakhir kali Indonesia meresmikan proyek RDMP terjadi 32 tahun lalu, yakni Kilang Balongan di Jawa Barat pada 1994. Dengan total investasi mencapai 7,4 miliar dolar AS, RDMP Balikpapan ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sekaligus menjadi proyek pengolahan minyak dan gas terbesar yang pernah dibangun di Tanah Air.

Selain menghentikan impor solar, RDMP Balikpapan juga meningkatkan kapasitas produksi bensin nasional secara signifikan. Produksi bensin bertambah sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun, sehingga total kapasitas nasional mendekati 20 juta kiloliter dari sebelumnya sekitar 14 juta kiloliter. Peningkatan ini diharapkan mampu menekan impor bensin yang saat ini masih berada di kisaran 18–19 juta kiloliter secara bertahap.

Dari sisi kualitas, kilang ini menghadirkan peningkatan standar bahan bakar dari Euro 2 menjadi Euro 5. Lompatan kualitas tersebut membuat produk BBM dalam negeri semakin ramah lingkungan dan sejajar dengan standar internasional.

Tak hanya menghasilkan BBM, RDMP Balikpapan juga memproduksi berbagai produk bernilai tambah tinggi. Di antaranya LPG dan bensin untuk kebutuhan rumah tangga dan transportasi, solar dengan cetane number (CN) 48 dan CN 51 yang seluruhnya diproduksi di dalam negeri—dengan impor CN 51 ditargetkan berhenti pada semester II tahun ini—serta produk petrokimia berupa propilena sebagai bahan baku utama industri plastik nasional.

Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional semakin kuat, ketergantungan terhadap impor BBM berkurang, dan industri hilir migas Indonesia mampu bersaing di tingkat global. (prokal)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |