BONTANGPOST.ID, Bontang – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bontang menerima aduan warga terkait peristiwa banjir dan longsor yang terjadi di Kampung Timur, Kelurahan Kanaan. Warga menduga bencana tersebut dipicu oleh bekas aktivitas galian C ilegal di sekitar permukiman.
Kapolres Bontang AKBP Widho Anriano melalui Kasatreskrim AKP Randy Anugrah membenarkan adanya laporan tersebut. Aduan warga berisi keluhan karena mereka menjadi korban banjir dan longsor yang diduga berasal dari lahan bekas galian C ilegal.
“Sudah ada laporan dari warga. Mereka keberatan menjadi korban longsor dan banjir, dengan dugaan penyebabnya lahan bekas galian C ilegal,” ujar AKP Randy, Selasa (20/1/2026).
Saat ini, laporan tersebut tengah ditindaklanjuti oleh kepolisian. Satreskrim Polres Bontang masih melakukan penyelidikan awal, termasuk menelusuri kepemilikan lahan yang diduga menjadi sumber longsoran.
“Untuk sementara kami lakukan penyelidikan dengan mengidentifikasi pemilik lahan,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang, banjir dan longsor yang terjadi di RT 01 Kelurahan Kanaan pada Kamis (15/1/2026) lalu berdampak pada sedikitnya 5 rumah warga.
Dalam penanganan kasus ini, kepolisian menegaskan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Pada tahap awal, penyidik akan memanggil sejumlah saksi serta melibatkan ahli dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur.
“Prosedur tetap kami jalankan. Laporan ini akan kami tindaklanjuti,” pungkas AKP Randy.
Sebelumnya, warga Kampung Timur RT 01 mengungkapkan bahwa longsor tersebut bukan kejadian pertama. Peristiwa serupa juga pernah terjadi saat aktivitas galian C ilegal masih beroperasi di kawasan tersebut.
Longsor terbaru berdampak pada lima rumah warga yang berada di sekitar bekas lokasi tambang, dengan jarak tebing hanya sekitar enam meter dari permukiman.
Salah seorang warga, Marmo (58), menyebut longsor pernah terjadi pada Maret 2025, namun dampaknya tidak separah sekarang.
“Dulu pas puasa 2025 cuma longsor saja, itu pun kena bagian belakang rumah Bu Meri. Kalau sekarang sudah lima rumah yang terdampak,” ujarnya, Jumat (16/1/2026). (*)














































