BONTANGPOST.ID, Bontang – Kebutuhan infrastruktur pengendali debit air sungai di wilayah hulu Kota Bontang dinilai semakin mendesak. Hal itu untuk menahan laju aliran air sebelum memasuki daerah aliran sungai (DAS) Bontang dan mengurangi potensi banjir.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Bontang, Much Cholis Edi Prabowo, menegaskan pentingnya pembangunan Polder Kanaan sebagai penampung air sementara. Dokumen perencanaan pengadaan tanah (DPPT) untuk proyek tersebut telah disusun sejak tahun lalu.
“Perlunya penanganan di hulu yakni Polder Kanaan. Ini menjadi prioritas tahun depan,” ujar pejabat yang akrab disapa Bowo itu, Kamis (19/2/2026).
Rencana pembangunan polder mencakup lahan sekitar 20 hektare yang berada di perbatasan Kelurahan Kanaan dan Gunung Telihan. Pemerintah menargetkan proses pembebasan lahan dapat dilakukan pada tahun depan, menyesuaikan kondisi kemampuan keuangan daerah.
“Mudah-mudahan bisa. Kalau di perubahan tahun ini tidak memungkinkan, tetapi kembali melihat kondisi keuangan,” katanya.
Untuk mekanisme pembebasan lahan, pemerintah mempertimbangkan skema konsinyasi, yakni penitipan dana ganti rugi ke Pengadilan Negeri Bontang apabila terjadi klaim kepemilikan dari warga. Skema serupa sebelumnya digunakan saat pembebasan lahan pembangunan off take SPAM dari Void Indominco.
“Kemarin itu hanya seperempat hektare saja banyak yang klaim. Bisa jadi metode ini dipakai karena luas polder mencapai 20 hektare,” jelasnya.
Dalam rencana pembangunan, Polder Kanaan akan dilengkapi berbagai fasilitas, di antaranya akses jalan gerbang, rumah pompa, rumah jaga, area parkir, kolam lumpur, rumah genset, rumah trafo, jalan akses polder, gudang, gardu PLN, saluran outlet, plengsengan, hingga jalan crossing polder.
Tahapan awal proyek telah dimulai melalui penyusunan feasibility study pada 2019 dan detail engineering design (DED) pada 2022. Total anggaran yang terserap untuk tahap perencanaan mencapai Rp1,4 miliar.
Selain sebagai pengendali banjir, infrastruktur ini juga diharapkan dapat menjadi sumber suplai bahan baku air bagi permukiman warga. Terlebih, Kota Bontang diproyeksikan menghadapi ancaman krisis air bersih dalam beberapa tahun ke depan. (ak)


















































