DLH Kutim Duga Tanggul Kolam KPC Jebol, Aliran Air Keruh Picu Kenaikan Debit Sungai Sangatta

13 hours ago 9

BONTANGPOST.ID, Sangatta – Sistem pengelolaan air milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) diduga mengalami kerusakan setelah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur (Kutim) melakukan verifikasi lapangan.

Dua tanggul kolam Pelikan Selatan dan Lower Melaso yang terindikasi jebol dan menjadi sumber aliran air keruh ke Sungai Bendili, salah satu anak sungai yang bermuara ke Sungai Sangatta. Hal ini juga diduga menjadi penyebab meningkatnya debit air di wilayah Sangatta.

Kepala DLH Kutim, Aji Wijaya Effendi, melalui tim Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup, mengatakan temuan itu didapat setelah pemeriksaan lapangan pada Jumat (6/2).

Dugaan jebolnya dua kolam tersebut muncul setelah DLH menemukan adanya potensi aliran air dengan tingkat kekeruhan tinggi yang mengarah dari wilayah kolam KPC.

“Karena jembatan dan bangunan Pelikan Selatan mengalami kerusakan. Sehingga kita duga volume air yang cukup besar itu bersumber dari Pelikan Selatan. Kemudian disusul dengan Lower Melaso yang bagian dari proses pengelolaan dari Pelikan Selatan,” jelasnya, Rabu (18/2).

Tak hanya dua kolam itu, DLH juga menemukan indikasi limpasan air cukup besar di kolam Melawi 2. Kondisi vegetasi yang rusak akibat arus kuat menjadi salah satu tanda besarnya debit air yang keluar dari kolam tersebut.

“Cuman pada saat di lapangan, kami tidak melihat ada kekeruhan. Justru kekeruhan itu terjadi yang kita lihat di Lower Melaso dan Pelikan Selatan,” ungkapnya, melansir Kaltim Post (induk Bontang Post).

Berdasarkan verifikasi lapangan, DLH menyimpulkan adanya kontribusi aliran air dari fasilitas pengelolaan air KPC terhadap meningkatnya debit air di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.

Sampel air dari lokasi dugaan limpasan juga sudah diambil dan saat ini menunggu hasil uji laboratorium. Seluruh temuan lapangan telah diserahkan ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

“Untuk hasil dari verifikasi lapangan, kita menunggu dari Kementerian. Hasil pengujian laboratorium juga menunggu rilis kementerian,” ujarnya.

KLH diketahui menurunkan tiga direktorat dan tiga ahli dengan total 20 personel untuk melakukan pemeriksaan lapangan terkait dugaan limpasan ini.

Diketahui, Pelikan Selatan juga pernah mengalami luapan pada 2014. Saat itu KPC dikenai denda Rp11,7 miliar.

Sementara itu, diberitakan sebelumnya General Manager External Affairs & Sustainable Development (ESD) KPC, Wawan Setiawan, membantah adanya tanggul jebol sebagaimana terlihat dalam video yang beredar. Ia menyebut yang terjadi hanyalah luapan air akibat curah hujan tinggi.

“Di mana itu? Info tanggul itu dari mana? Jadi, di tambang itu kalau hujan besar kadang air mencari titik terendah. Jadi ada overflow di jalan. Isunya kemarin menghambat kepulangan karyawan,” jelas Wawan. (juf/kpg)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |