BONTANGPOST.ID, Bontang – Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bontang memastikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil tetap berjalan pada 2026, meski dengan pendekatan yang lebih terintegrasi.
Program PMT kini disinergikan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) serta dukungan dunia usaha, agar intervensi gizi dapat lebih tepat sasaran. Kepala Diskes Bontang, Bachtiar Mabe, mengatakan sebagian besar kebutuhan gizi balita dan ibu hamil stunting saat ini telah terakomodasi melalui program MBG.
Karena itu, alokasi PMT dari APBD dilakukan secara selektif dan difokuskan pada sasaran yang masih membutuhkan intervensi lanjutan.
“MBG sudah meng-cover ibu hamil dan balita stunting. Tinggal kita evaluasi, siapa yang masih perlu intervensi tambahan,” ujar Bachtiar.
Selain dukungan pemerintah, Diskes Bontang juga mendorong keterlibatan perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Sejumlah perusahaan besar, seperti PT Pama dan Badak LNG, telah menyatakan komitmen membantu PMT berbasis produk olahan diet khusus atau makanan tambahan bergizi.
Meski demikian, Bachtiar menegaskan keterlibatan perusahaan harus tetap dikoordinasikan dengan Diskes agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan.
“Tidak boleh bergerak sendiri. Harus komunikasi dengan Diskes supaya tepat sasaran. Jangan sampai ada balita dapat dobel, sementara yang lain tidak dapat sama sekali,” tegasnya.
Terkait rencana timbang serentak, Diskes Bontang masih menerapkan pola tentatif. Pada prinsipnya, penimbangan balita tetap dilakukan setiap bulan di posyandu.
“Timbang serentak bisa dilakukan tiga kali setahun sesuai arahan, tapi kita lihat dulu kondisi di lapangan,” tuturnya.
Jika cakupan penimbangan rutin di posyandu sudah berada di atas 85 persen, maka timbang serentak dinilai tidak terlalu mendesak karena berpotensi menyita tenaga dan anggaran.
“Kalau kondisi sudah bagus, tidak perlu dipaksakan. Kita bekerja efektif,” katanya.
Meski begitu, Diskes telah menyiapkan jadwal alternatif apabila diperlukan. Rencana timbang serentak diproyeksikan berlangsung pada April atau Mei 2025, bergantung pada hasil evaluasi capaian bulanan.
Bachtiar juga menekankan pentingnya peran kader posyandu dalam pendataan dan penjemputan balita serta ibu hamil. Dengan insentif yang telah ditingkatkan, kader diharapkan semakin aktif melakukan pemantauan langsung ke masyarakat.
“Ini kerja besar dan komprehensif. Media, masyarakat, kader, perusahaan, semua harus bergerak bersama. Target kita jelas, jangan ada stunting baru,” pungkasnya. (ak)














































