Neni Minta Kemenkeu Perjelas DBH Bontang Usai Ekspor Perdana Pupuk ke Australia

1 day ago 15

BONTANGPOST.ID, Bontang – Kontribusi besar Kota Bontang terhadap devisa negara melalui sektor industri pupuk dan ekspor urea dinilai belum sebanding dengan kepastian dukungan fiskal dari pemerintah pusat.

Di tengah potensi ekspor urea yang diproyeksikan mencapai 1,5 juta ton, Pemerintah Kota Bontang berharap Transfer ke Daerah (TKD) tidak mengalami pemangkasan.

Hal itu disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat menyoroti peran strategis industri Bontang bagi perekonomian nasional.

Menurut Neni, keberhasilan industri di Bontang tidak lepas dari kontribusi perusahaan strategis nasional seperti Pupuk Kaltim yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Industri tersebut dinilai tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara melalui sektor ekspor.

“Pupuk Kaltim mendapatkan peluang besar. Kami berharap TKD Bontang tidak diturunkan karena kami juga ingin terus menyumbang devisa yang luar biasa untuk negara,” ujarnya.

Ia menilai Kota Bontang layak mendapat perhatian lebih dari pemerintah pusat karena menjadi salah satu kawasan industri strategis di Kalimantan Timur yang menopang kebutuhan pupuk nasional hingga pasar ekspor.

Neni juga menyinggung potensi ekspor urea dari Bontang yang diperkirakan mencapai 1,5 juta ton. Menurutnya, angka tersebut menjadi bukti pentingnya peran industri di Kota Taman dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, khususnya sektor industri kimia dan pupuk.

“Ekspor urea ini merupakan semangat Kota Bontang untuk bagaimana industri di Indonesia bisa terus maju,” katanya.

Selain itu, Neni meminta perhatian khusus kepada Kementerian Keuangan terkait kebijakan transfer ke daerah. Ia menilai kepastian mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) masih perlu diperjelas pemerintah pusat.

“Kami meminta kepada Kementerian Keuangan agar TKD Bontang tidak dipotong. Karena sampai sekarang DBH kita juga belum jelas, sementara kita banyak memberikan devisa untuk negara,” tuturnya.

Sebelumnya, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) kembali mencatat sejarah baru dengan melepas ekspor perdana pupuk urea ke Australia melalui skema kerja sama Government to Government (G2G).

Sebanyak 47.250 metrik ton pupuk urea dikirim menggunakan kapal MV Medi Luna dari Dermaga Pelabuhan Pupuk Kaltim, Bontang, Kamis (14/5/2026).

Ekspor tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama strategis Indonesia dan Australia dalam sektor ketahanan pangan regional. Pemerintah menargetkan total pengiriman mencapai 250 ribu ton hingga Desember 2026 dan berpotensi meningkat menjadi 500 ribu ton.

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengapresiasi langkah Pupuk Kaltim dan Pupuk Indonesia yang dinilai berhasil membuka peluang pasar internasional di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu.

“Pupuk Kaltim mencetak sejarah karena mulai mengekspor pupuk ke Australia. Awalnya direncanakan 250 ribu ton, tapi akan kita tingkatkan menjadi 500 ribu ton,” ujar Amran.

Ia menegaskan ekspor dilakukan setelah kebutuhan pupuk nasional dipastikan aman. Pemerintah tetap memprioritaskan kebutuhan petani dalam negeri sebelum membuka pasar ekspor. (ak)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |