BONTANGPOST.ID – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki fase konsolidasi setelah lebih dari satu tahun berjalan. Sejak pertama kali diluncurkan pada 20 Januari 2025, program nasional di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional (BGN) ini berkembang menjadi salah satu intervensi sosial terbesar di provinsi tersebut.
Meski jumlah satuan layanan dan penerima manfaat terus bertambah, pelaksanaan MBG di Kaltim masih menghadapi sejumlah tantangan. Pemerataan layanan, kesiapan infrastruktur, serta komitmen mitra pelaksana menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas.
Pendamping Koordinator Regional BGN Kaltim, Sirajul Amin Muhammad Mubarak, menjelaskan bahwa Kaltim termasuk provinsi yang relatif lebih awal mengimplementasikan program MBG dibanding daerah lain.
Sebaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) saat ini telah mencakup hampir seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Daerah yang sudah menjalankan program MBG antara lain Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Bontang, Samarinda, Balikpapan, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, dan Paser.
Dari seluruh wilayah administratif di Kaltim, hanya Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) yang hingga kini belum melaksanakan program MBG secara operasional.
Menurut Sirajul, Mahulu memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi keterbatasan akses, minimnya informasi, serta kesiapan infrastruktur pendukung. Faktor-faktor tersebut menjadi penyebab utama keterlambatan implementasi program di wilayah tersebut.
Meski demikian, ia memastikan proses menuju operasional MBG di Mahulu terus berjalan. Saat ini, calon SPPG di wilayah tersebut tengah dalam tahap pembangunan.
“Di Mahulu sudah ada calon SPPG yang sedang berprogres. Harapannya, pada tahun 2026 program MBG di Mahakam Ulu sudah bisa mulai berjalan,” ujarnya.
Dari sisi cakupan penerima manfaat, hingga awal 2026 program MBG di Kaltim telah melayani sekitar 264.954 orang per hari. Sasaran program tidak hanya peserta didik, tetapi juga mencakup tenaga pendidik serta kelompok non-peserta didik seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Jika dibandingkan dengan potensi sasaran MBG di Kaltim yang diperkirakan mencapai sekitar 1.101.000 orang, capaian tersebut baru menyentuh sekitar 24 persen. Angka ini menunjukkan bahwa meski program telah berjalan cukup luas, sebagian besar potensi penerima manfaat masih belum terlayani secara optimal. (KP)














































