Tak Masuk Prioritas, Jembatan Parikesit Bontang Tunggu Penanganan

17 hours ago 8

BONTANGPOST.ID, Bontang – Keberadaan jembatan tinggi di Jalan Parikesit, Kelurahan Bontang Baru, menuai keluhan warga. Struktur jalan yang menanjak tajam dinilai membahayakan pengendara dan disebut turut memperparah genangan di kawasan sekitar.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang pun angkat bicara. Kepala Bidang Bina Marga PUPRK Bontang Anwar Nurdin, mengatakan perencanaan pelandaian sisi jembatan sebenarnya sudah tersedia. Namun, pelaksanaannya belum masuk prioritas program 2026.

“Perencanaan pelandaian sudah ada, tetapi belum diprogramkan untuk tahun ini,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).

Menurut Anwar, tingginya elevasi jalan dipengaruhi pemasangan box culvert berukuran besar di bawah badan jalan, sehingga permukaan jalan harus menyesuaikan.

Penjelasan serupa disampaikan Kepala Bidang Sanitasi Air Minum dan Sumber Daya Air PUPRK Bontang, Edi Suprapto. Ia menyebut dimensi box culvert yang tinggi dan lebar membuat konstruksi jalan ikut meninggi.

“Awalnya drainase di bawah jalan sangat kecil dan terjadi bottle neck. Karena itu dipasang box culvert yang lebih besar,” jelasnya.

Terkait banjir yang masih terjadi, Edi mengakui penanganan kawasan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Masih terdapat koneksi drainase yang belum berfungsi optimal, seperti saluran dari Jalan Suryanta menuju Jembatan Parikesit dan dari jembatan ke Gang Gitar.

Bahkan, salah satu saluran penghubung disebut telah tertutup dan dimanfaatkan sebagai akses jalan warga. Kondisi ini menyebabkan air kiriman maupun rob laut tertahan di box culvert dan meluap ke permukiman.

“Efisiensi anggaran menjadi kendala tahun ini sehingga belum ada penanganan lanjutan. Selain itu, kawasan ini padat permukiman sehingga penanganannya cukup kompleks,” terangnya.

Sebagai langkah awal, pada 2025 Dinas PUPRK telah melakukan normalisasi drainase di Jalan Awang Long untuk memecah aliran air agar tidak seluruhnya mengarah ke Jalan Parikesit.

Sebelumnya, warga mengeluhkan kemiringan jalan dari arah Warung Makan Bude Sri menuju jembatan yang dinilai terlalu curam. Berbeda dengan sisi dari arah UMKM Center yang telah dilakukan pelandaian menggunakan APBD 2024 senilai Rp150 juta, sisi seberangnya belum mendapat penanganan lanjutan.

Andiros (63), warga RT 11 Kelurahan Bontang Baru yang rumahnya berada tepat di depan jembatan, mengatakan kemiringan jalan kerap membuat bemper mobil tersangkut saat melintas. Selain itu, jarak pandang pengendara yang keluar-masuk gang juga dinilai terbatas.

“Sudah banyak kejadian kecelakaan di sini,” ujarnya, Sabtu (6/2/2026). (*)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |