BONTANGPOST.ID, Samarinda – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kaltim pada November 2025 mencapai 5,2 persen. Angka ini naik tipis dibandingkan Agustus 2025 yang berada di level 5,18 persen.
Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan, kondisi ketenagakerjaan tersebut mencerminkan situasi pada November 2025, dengan jumlah penduduk usia kerja mencapai 3,1 juta orang atau meningkat sekitar 26,5 ribu orang dibandingkan periode sebelumnya.
“Jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 2,079 juta orang, naik sekitar 2.000 orang. Sementara bukan angkatan kerja mencapai 1,67 juta orang, meningkat sekitar 24,48 ribu orang dibandingkan Agustus 2025,” ujar Mas’ud.
Meski jumlah angkatan kerja bertambah, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) justru mengalami penurunan. Secara total, TPAK tercatat sebesar 66,08 persen, turun dari Agustus 2025 yang sebesar 66,58 persen.
Berdasarkan jenis kelamin, TPAK laki-laki berada di angka 82,49 persen, sedangkan perempuan 42,84 persen. Keduanya sama-sama mengalami penurunan tipis.
Dari sisi pengangguran, TPT perempuan tercatat sebesar 7,3 persen, lebih tinggi dibandingkan TPT laki-laki yang sebesar 4,05 persen. Mas’ud menyebutkan, TPT laki-laki mengalami penurunan, sementara TPT perempuan justru meningkat dibandingkan periode sebelumnya.
Untuk penyerapan tenaga kerja, tiga lapangan usaha terbesar masih didominasi sektor perdagangan dengan kontribusi 18,38 persen, disusul pertanian 15,45 persen, serta akomodasi dan makan minum 10,2 persen. Dibandingkan Agustus 2025, sektor perdagangan dan pertanian mengalami penurunan tipis, sementara sektor akomodasi dan makan minum mencatatkan kenaikan.
Berdasarkan status pekerjaan, mayoritas penduduk bekerja sebagai buruh, karyawan, atau pegawai dengan proporsi 54,06 persen. Selanjutnya berusaha sendiri sebesar 18,27 persen, serta berusaha dibantu buruh tetap maupun tidak tetap sebesar 10,25 persen.
BPS juga mencatat peningkatan proporsi pekerja formal di Kaltim dari Agustus ke November 2025. Pekerja formal kini mencapai 57,94 persen, sementara pekerja informal 42,06 persen.
Dari sisi pendidikan, tenaga kerja berpendidikan SMA masih mendominasi dengan porsi 30,57 persen. Disusul SD ke bawah 21,43 persen, SMK 15,2 persen, SMP 13,83 persen, Diploma IV/S1 ke atas 15,65 persen, dan Diploma III sebesar 3,32 persen.
“Dalam lima bulan terakhir terlihat tren penurunan tenaga kerja berpendidikan rendah, sementara pendidikan menengah dan tinggi meningkat. Namun, lulusan SMK dan Diploma III justru menunjukkan kecenderungan menurun,” pungkas Mas’ud. (prokal)
















































