Operasi Timbang Bontang Capai 100 Persen, Strategi Jemput Bola hingga Posyandu Malam Berhasil Optimalkan Cakupan Anak

6 hours ago 3

BONTANGPOST.ID, Bontang – Operasi Timbang Serentak yang digelar Pemerintah Kota Bontang pada 9–13 Juni 2026 berhasil mencapai cakupan 100 persen. Seluruh balita yang menjadi sasaran di posyandu se-Kota Bontang tercatat hadir dan menjalani pengukuran berat badan maupun tinggi badan.

Meski demikian, capaian tersebut tidak serta-merta membuat angka stunting menjadi nol. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang masih melakukan validasi terhadap seluruh hasil pengukuran sebelum mengumumkan data resmi pada akhir Juni mendatang.

Kepala Dinkes Bontang, drg Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan keberhasilan mencapai cakupan penuh merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari kader posyandu, ketua RT, lurah, camat, puskesmas hingga organisasi perangkat daerah (OPD).

“Sebelum pelaksanaan, kami menggelar rapat koordinasi dengan seluruh pihak terkait. Kader posyandu juga diberikan penyegaran mengenai tata cara pengukuran berat badan dan tinggi badan agar tidak terjadi perbedaan persepsi di lapangan,” ujarnya.

Menurut Toetoek, keseragaman metode pengukuran menjadi faktor penting untuk menghasilkan data yang akurat. Sebab, kualitas data tidak hanya ditentukan oleh tingkat kehadiran balita, tetapi juga ketepatan proses pengukurannya.

Dalam pelaksanaan operasi timbang, Dinkes sempat menghadapi kendala di sejumlah posyandu yang berada di kawasan perumahan perusahaan. Tingkat kehadiran balita di wilayah tersebut sempat lebih rendah dibanding lokasi lainnya.

Untuk mengatasi hal itu, Pemkot Bontang menerbitkan surat edaran wali kota yang diperkuat surat dari Dinkes kepada perusahaan agar mendukung pelaksanaan operasi timbang. Langkah tersebut mendapat respons positif dari berbagai perusahaan.

“Kami berterima kasih kepada perusahaan seperti Badak LNG dan Pupuk Kaltim yang ikut membantu menyukseskan operasi timbang. Sinergi seperti ini sangat membantu kami dalam memastikan seluruh sasaran terjangkau,” katanya.

Selain mengandalkan posyandu, Dinkes juga melakukan penyandingan data dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Balita yang telah ditimbang di fasilitas kesehatan lain tetap dimasukkan dalam data operasi timbang.

Upaya jemput bola juga dilakukan dengan mendatangi rumah warga yang belum sempat membawa anaknya ke posyandu. Bahkan, beberapa posyandu memperpanjang jam pelayanan hingga malam hari untuk memastikan seluruh sasaran terdata.

“Pada hari terakhir, seluruh sasaran yang ada dalam data posyandu berhasil ditimbang. Jadi yang 100 persen itu adalah cakupan kehadiran dan penimbangan balita, bukan berarti angka stunting menjadi nol,” jelasnya.

Menurut Toetoek, tingginya cakupan justru membuat data yang diperoleh semakin representatif. Selama ini, balita yang datang ke posyandu cenderung mereka yang memiliki masalah pertumbuhan. Dengan seluruh sasaran hadir, gambaran kondisi kesehatan balita di Kota Bontang menjadi lebih akurat.

Meski hasil sementara telah diperoleh, Dinkes belum akan mengumumkan angka stunting terbaru sebelum seluruh data diverifikasi oleh kepala puskesmas.

“Setiap balita yang terdeteksi stunting akan divalidasi kembali. Bisa saja ada kesalahan pengukuran atau faktor lain di lapangan. Karena itu kami ingin memastikan data yang diumumkan benar-benar valid,” terangnya.

Selain stunting, operasi timbang juga mendeteksi kasus wasting dan underweight. Ketiga persoalan tersebut akan ditangani melalui intervensi yang berbeda sesuai penyebab masing-masing.

Toetoek menegaskan penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian makanan tambahan. Faktor kesehatan lingkungan, sanitasi, kualitas air bersih, penyakit penyerta hingga kondisi sosial ekonomi keluarga juga harus menjadi perhatian.

“Kalau ada penyakit penyerta atau infeksi pada anak, itu juga harus ditangani. Jadi intervensinya terintegrasi, tidak hanya soal makanan tetapi juga kesehatan lingkungan dan kondisi keluarga,” ujarnya.

Terkait keterlibatan perusahaan sebagai orang tua asuh stunting, Dinkes memastikan pola bantuan ke depan akan disesuaikan dengan hasil pemetaan terbaru berbasis data by name by address agar intervensi yang diberikan lebih tepat sasaran.

“Perusahaan selama ini sudah banyak membantu. Yang perlu diperbaiki adalah bagaimana bantuan itu sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak dan keluarga. Karena sebesar apa pun anggaran yang dikeluarkan, kalau intervensinya tidak tepat sasaran maka hasilnya tidak akan maksimal,” pungkasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, perusahaan, hingga masyarakat.

Ia berharap kerja sama lintas sektor yang telah terbangun selama ini dapat terus diperkuat sehingga program penanganan stunting mampu memberikan dampak nyata bagi tumbuh kembang anak di Kota Bontang.

“Kalau data sudah akurat dan seluruh pihak bergerak bersama, saya optimistis angka stunting di Bontang akan terus menurun. Tujuan akhirnya adalah memastikan anak-anak Bontang tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (*)

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |