BONTANGPOST.ID, Bontang – Pemerintah Kota Bontang kembali menjadwalkan pelaksanaan timbang serentak balita pada 6 Juni 2026 mendatang. Program ini menjadi bagian dari upaya percepatan penanganan stunting sekaligus pemutakhiran data balita di seluruh wilayah Kota Bontang.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengatakan kegiatan timbang serentak menjadi momentum penting untuk memastikan kondisi kesehatan bayi dan balita secara menyeluruh.
“Insyaallah bulan Juni kita timbang serentak lagi. Setelah itu kami optimistis angka stunting bisa turun lagi,” ujar Agus Haris usai rapat percepatan penanganan stunting, Senin (18/5/2026).
Pemkot menargetkan prevalensi stunting tahun ini turun menjadi 12,5 persen. Sebelumnya, angka stunting di Bontang berhasil ditekan dari 17 persen pada 2024 menjadi 15 persen pada 2025.
Meski begitu, Agus Haris mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya rendahnya partisipasi sebagian keluarga untuk membawa anak mereka ke Posyandu maupun Puskesmas.
“Ada beberapa kelompok keluarga yang belum semangat membawa bayi ke Posyandu. Masih ada juga yang belum mau vaksin dan imunisasi,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga menyoroti persoalan pernikahan usia dini yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko stunting. Saat ini perhatian pemerintah difokuskan pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu nifas, calon pengantin, baduta, hingga balita.
Seluruh data hasil timbang serentak nantinya akan dikumpulkan melalui enam Puskesmas dan 15 kelurahan sebelum dipusatkan di Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida).
Pemkot menargetkan seluruh data sudah masuk sebelum akhir bulan ini agar proses pemetaan dan intervensi dapat dilakukan lebih cepat.
“Kami tidak mau lagi bekerja kalau tidak berdasarkan data. Karena itu semua data harus masuk ke Bapperida untuk dipetakan mana yang sudah diintervensi dan mana yang masih terkendala,” tuturnya.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Pemkot juga akan melibatkan tokoh agama, mubalig, pendeta, hingga pastor dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Kami ingin pendekatan dari sisi pemerintahan dan keagamaan berjalan bersama supaya masyarakat lebih sadar pentingnya kesehatan anak,” pungkasnya. (ak)


















































