BONTANGPOST.ID, Kutim – Penantian panjang warga Kampung Long Joq, Desa Long Bentuq, Kecamatan Busang, Kutai Timur, terhadap pembangunan jembatan penghubung hingga kini belum terjawab.
Selama puluhan tahun, warga masih bergantung pada perahu untuk menyeberangi sungai demi menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan, tetapi juga membahayakan.
Risiko paling besar dirasakan anak-anak sekolah yang harus menyeberang setiap hari untuk mengakses pendidikan di kampung seberang.
Salah satu warga, Farida, menyebut persoalan ini telah berlangsung lintas generasi.
“Dari zaman orang tua kami masih pakai perahu dayung, lalu beralih ke ketinting sampai sekarang. Tapi jembatan yang dijanjikan belum juga ada,” ujarnya, Rabu (23/4).
Kampung Long Joq merupakan bagian dari Desa Long Bentuq yang posisinya terpisah oleh sungai. Sementara wilayah seberang seperti Long Bentuq dan Rantau Sentosa telah memiliki fasilitas yang lebih lengkap, mulai dari listrik, sekolah, puskesmas, hingga kantor pemerintahan.
Akibatnya, seluruh aktivitas penting warga Long Joq—termasuk pendidikan anak-anak dari tingkat TK hingga SMA—harus dilakukan dengan menyeberangi sungai.
Untuk sekali penyeberangan, anak sekolah tanpa kendaraan dikenakan biaya sekitar Rp2 ribu pulang-pergi. Sementara yang membawa motor bisa mencapai Rp10 ribu, dan warga umum hingga Rp20 ribu.
Namun, persoalan utama bukan hanya soal biaya, melainkan keselamatan. Saat debit air meningkat, aktivitas penyeberangan menjadi semakin berisiko.
“Kalau air naik, biasanya anak-anak diliburkan. Tapi kalau ujian, tetap harus menyeberang walaupun risikonya besar,” kata Farida.
Ia juga mengingat peristiwa tragis pada 2003 lalu, ketika perahu yang mengangkut siswa terbalik dan menyebabkan dua anak meninggal dunia.
Meski usulan pembangunan jembatan telah berulang kali disampaikan, hingga kini belum ada realisasi. Janji pembangunan kerap muncul saat momentum politik, namun belum berbuah hasil.
Farida menegaskan, persoalan ini sudah berlangsung sejak lama dan tidak ingin menyalahkan pemerintah saat ini. Ia berharap ada perubahan nyata.
“Ini masalah lama yang belum terselesaikan. Kami berharap pemerintahan sekarang bisa membawa perubahan dan mewujudkan jembatan yang sudah lama kami nantikan,” tuturnya.
Selain jembatan, warga juga masih menghadapi keterbatasan listrik dan jaringan komunikasi di Long Joq, sementara wilayah seberang telah menikmati fasilitas dasar yang lebih memadai. (KP)


















































