BONTANGPOST.ID – Hampir sembilan tahun meninggalkan Kota Raja, Rita Widyasari akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Tenggarong, Jumat (12/6/2026). Kepulangan mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) periode 2010-2017 itu disambut ribuan warga yang memadati sejumlah ruas jalan sejak siang hari.
Sorak-sorai, pelukan hangat, hingga tangisan mewarnai perjalanan Rita menuju kediamannya. Banyak warga rela menunggu berjam-jam hanya untuk melihat sosok yang pernah memimpin Kukar selama dua periode tersebut kembali pulang.
Rita tiba melalui Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tenggarong. Setibanya di kawasan Simpang Lembuswana, jalur Samarinda-Tenggarong, ia berganti menggunakan sepeda motor dan diarak warga menuju Kota Raja.
Sepanjang perjalanan, masyarakat berjejer di tepi jalan. Sebagian melambaikan tangan, sebagian lainnya mengabadikan momen menggunakan telepon genggam. Memasuki kawasan Timbau, kerumunan semakin padat. Warga berusaha mendekat untuk sekadar bersalaman, memeluk, atau menyampaikan rasa rindu yang selama bertahun-tahun hanya tersimpan dari kejauhan.
Beberapa warga bahkan terlihat menyodorkan makanan dan minuman kepada Rita di tengah arak-arakan menuju kediamannya di Jalan Melati, Kelurahan Panji.
Momen paling emosional terjadi saat rombongan memasuki kawasan permukiman menuju rumah keluarga. Tangis sejumlah warga pecah. Mereka mengaku tak menyangka bisa kembali bertemu langsung dengan Rita setelah hampir satu dekade.
Rita pun mengaku tidak pernah membayangkan sambutan sebesar itu.
“Terharu, apalagi tadi pas melewati Jembatan Kutai Kartanegara. Saya pikir enggak banyak orang yang menunggu, ternyata banyak yang menyambut dan mengiringi. Alhamdulillah, luar biasa. Jujur, itu enggak terbayangkan oleh saya,” ujarnya.
Kepulangan tersebut juga membangkitkan banyak kenangan. Dari atas kendaraan yang membawanya memasuki Tenggarong, Rita melihat berbagai sudut kota yang pernah menjadi bagian dari program pembangunan saat dirinya menjabat sebagai kepala daerah.
“Saya senang lihat Tenggarong sekarang. Dulu saya yang membongkar kawasan Tanjung. Memang cita-cita saya membuat kawasan itu menjadi tempat nongkrong masyarakat. Alhamdulillah sekarang sudah jadi, bagus dan keren,” katanya.
Rita mengaku kembali larut dalam emosi ketika melihat berbagai spanduk penyambutan yang masih menggunakan slogan khas masa kepemimpinannya.
“Tadi saya lihat ada spanduk dan tulisan Bunda Rita Kukar Idaman lagi. Aduh, sedih rasanya. Saya sampai nangis,” ungkapnya.
Meski disambut meriah, Rita mengaku belum memiliki agenda khusus setelah kembali ke Kukar. Untuk sementara waktu, ia ingin beristirahat dan menikmati kebersamaan dengan keluarga.
“Saya kan lahir di sini. Sudah lama sekali tidak tinggal di rumah ini. Jadi saya mau lihat-lihat dulu. Saya masih punya aset dan sebagainya di sini. Sementara ini saya mau di sini dulu, istirahat dulu sambil melihat situasi,” tuturnya.
Di antara banyak hal yang dirindukan selama jauh dari kampung halaman, ada satu nama yang langsung terlintas di benaknya: Bakso GLG.
Makanan legendaris Tenggarong itu menyimpan banyak kenangan bagi Rita sejak masa remaja.
“Yang paling saya kangen itu Bakso GLG. Dulu waktu umur 17 tahun, ulang tahun saya di rumah ini dan makanannya bakso GLG. Saya bisa tiga kali makan bakso,” kenangnya sambil tertawa.
Kerinduan terhadap kampung halaman juga berkaitan dengan keluarga. Salah satu agenda pertama yang ingin dilakukannya adalah berziarah ke makam ayah dan adiknya yang telah lebih dahulu berpulang.
“Saya mau ke kuburan bapak dan adik saya. Banyak keluarga yang meninggal selama saya menjalani masa tahanan. Bahkan ada yang baru saya tahu hari ini setelah pulang,” katanya.
Bagi Rita, kerinduan terhadap Kukar bukan hanya tentang rumah, tetapi juga identitas yang melekat sejak lahir.
“Saya memang orang Kutai. Saya lahir di Jalan Mawar. Saya benar-benar lahir orang Kutai,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan kembali ke dunia politik, Rita memilih belum memikirkannya. Fokus utamanya saat ini adalah keluarga dan memulihkan hubungan yang sempat terputus selama bertahun-tahun.
“Kalau urusan politik, saya enggak mau dulu. Malas, capek saja. Sekarang saya mau istirahat dulu dan ketemu keluarga,” ucapnya.
Bagi banyak warga yang memadati jalan-jalan Tenggarong hari itu, kepulangan Rita Widyasari bukan sekadar perjalanan pulang seorang mantan kepala daerah. Momen tersebut menjadi pertemuan kembali dengan sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Kutai Kartanegara. Sementara bagi Rita, kepulangan itu adalah kesempatan untuk menyambung silaturahmi, menunaikan ziarah keluarga, dan menikmati kembali hal-hal sederhana yang selama bertahun-tahun hanya bisa dirindukan dari kejauhan. (prokal)


















































