BONTANGPOST.ID, Bontang – Kasus suspek campak di Kota Bontang mencapai 169 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 88,17 persen terjadi pada anak-anak yang belum menerima imunisasi lengkap.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bachtiar Mabe, mengatakan kondisi ini menjadi perhatian serius. Rendahnya cakupan imunisasi dinilai berpotensi mempercepat penyebaran penyakit di masyarakat.
“Rata-rata yang terkena campak adalah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Ini yang menjadi fokus kami saat ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, imunisasi berperan penting dalam membentuk kekebalan tubuh sekaligus mencegah penularan. Tanpa imunisasi, risiko penyebaran tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga lingkungan sekitarnya.
“Kalau tidak diimunisasi, bukan hanya anak itu yang berisiko, tapi juga orang di sekitarnya karena tidak terbentuk kekebalan kelompok,” jelasnya.
Untuk menekan angka kasus, Diskes Bontang menggencarkan program imunisasi yang berlangsung sejak April hingga Mei 2026. Program ini ditargetkan menjangkau seluruh anak agar memperoleh vaksin secara lengkap.
Namun, masih terdapat sebagian masyarakat yang enggan mengikuti imunisasi. Menurut Mabe, hal tersebut umumnya dipengaruhi kurangnya pemahaman tentang pentingnya vaksin.
“Yang belum mau imunisasi kemungkinan belum memahami manfaatnya. Karena itu kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat,” katanya.
Dalam penanganan kasus, Diskes tetap mengedepankan pendekatan kuratif sesuai gejala. Pasien dengan kondisi ringan ditangani di puskesmas, sedangkan kasus yang memerlukan penanganan lanjutan akan dirujuk ke rumah sakit.
Mabe menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung program imunisasi demi meningkatkan cakupan vaksinasi.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi semua pihak. Kita harus bergerak bersama agar cakupan imunisasi bisa maksimal,” tutupnya. (ak)


















































