BONTANGPOST.ID, Bontang – Kota Bontang kembali menorehkan prestasi di bidang literasi. Berdasarkan survei Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) yang dilakukan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Bontang berhasil menempati peringkat pertama se-Kalimantan Timur dengan skor 60,47 persen.
Kepala Bidang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Bontang Indra Nopika Wijaya, menyebut capaian ini menunjukkan konsistensi masyarakat dalam budaya membaca.
“Alhamdulillah, untuk indikator TKM kita kembali di posisi pertama. Sempat turun ke peringkat tiga pada 2024, kini kembali naik,” ujarnya saat ditemui di Kantor DPK Bontang, Senin (20/4/2026).
Rincian nilai TKM Bontang meliputi pra membaca sebesar 54,30 persen, saat membaca 58,69 persen, dan pasca membaca 65,47 persen. Angka tersebut mencerminkan aktivitas literasi masyarakat yang aktif dan berkelanjutan.
“Ini menunjukkan masyarakat Bontang cukup konsisten dalam hal literasi dibanding daerah lain di Kaltim,” tambahnya.
Sementara itu, Kota Balikpapan berada di peringkat kedua dengan nilai 58,76 persen, disusul Samarinda di posisi ketiga dengan skor 58,55 persen.
Untuk mempertahankan capaian tersebut, DPK Bontang terus melakukan berbagai inovasi dan peningkatan layanan. Salah satunya melalui penguatan layanan perpustakaan yang inklusif, termasuk pengembangan fasilitas ramah disabilitas di seluruh unit perpustakaan.
“Harapannya, penyandang disabilitas juga mendapatkan akses yang setara terhadap layanan dan koleksi bacaan,” jelas Indra.
Selain itu, DPK Bontang menargetkan pemenuhan koleksi buku, khususnya di perpustakaan sekolah, dengan minimal 1.000 buku guna mendukung kebutuhan literasi pelajar.
Program lain yang dijalankan adalah “Silang Layan” antar perpustakaan. Melalui program ini, koleksi buku dapat dipinjam hingga tiga bulan dan dipertukarkan secara berkala untuk memperkaya ragam bacaan.
“Program ini efektif menambah variasi koleksi tanpa harus menambah anggaran pengadaan buku,” ujarnya.
Seiring perkembangan teknologi, DPK Bontang juga terus mengembangkan layanan digital melalui penyediaan buku elektronik (e-book) agar akses literasi semakin luas.
“Masyarakat bisa membaca kapan saja dan di mana saja secara lebih fleksibel,” tutupnya. (*)

















































