BONTANGPOST.ID, Bontang – Upaya pengendalian demam berdarah dengue (DBD) melalui inovasi nyamuk ber-Wolbachia di Kota Bontang belum menunjukkan hasil optimal.
Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang mencatat tingkat keberadaan nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia di lapangan masih berkisar 30 persen. Angka tersebut masih berada di bawah ambang batas ideal agar populasi nyamuk Wolbachia dapat berkembang secara alami di lingkungan.
Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular Diskes Bontang, Nur Ilham, menjelaskan secara teori populasi nyamuk Wolbachia perlu mencapai sekitar 60 persen agar dapat mendominasi populasi nyamuk di suatu wilayah.
“Secara teori, jika populasi nyamuk ber-Wolbachia sudah mencapai sekitar 60 persen, maka ia bisa berkembang dan mendominasi populasi nyamuk di suatu wilayah,” kata Ilham saat dikonfirmasi, Kamis (5/3).
Program pengendalian vektor melalui bakteri Wolbachia merupakan salah satu metode inovatif untuk menekan penyebaran virus dengue. Nyamuk Aedes aegypti yang mengandung bakteri Wolbachia diketahui mampu menghambat perkembangan virus dengue dalam tubuhnya sehingga tidak menularkan penyakit kepada manusia.
Namun, di Bontang perkembangan populasi nyamuk tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Salah satu penyebabnya adalah dominasi nyamuk lokal yang jumlahnya masih cukup tinggi.
“Nyamuk Wolbachia masih belum mampu bersaing dengan nyamuk lokal yang jumlahnya lebih dominan,” ujarnya.
Berdasarkan data monitoring keenam yang dilakukan pada Desember 2024, rata-rata keberadaan nyamuk Wolbachia di Bontang masih berada di kisaran 30 persen. Hasil pemantauan juga menunjukkan adanya variasi angka di beberapa wilayah.
Di Bontang Utara, tingkat keberadaan nyamuk Wolbachia tercatat sekitar 21 persen. Kemudian Bontang Selatan 20 persen dan Bontang Barat 35 persen.
Sementara itu, kawasan perumahan perusahaan PT Badak menunjukkan capaian lebih tinggi, yakni sekitar 96,3 persen. Namun angka tersebut masih berdasarkan monitoring keempat karena penyebaran Wolbachia di kawasan itu dilakukan paling akhir.
Adapun di perumahan PC Pupuk Kaltim, tingkat sebaran populasi nyamuk Wolbachia tercatat sekitar 11,8 persen berdasarkan monitoring keenam.
Meski belum mencapai target ideal, Diskes Bontang menilai keberadaan 30 persen nyamuk Wolbachia tetap memberikan manfaat dalam upaya pencegahan DBD.
Menurut Ilham, kondisi tersebut berarti sebagian nyamuk yang menggigit manusia berpotensi tidak menularkan virus dengue.
“Walaupun progresnya masih sekitar 30 persen, itu tetap memberikan proteksi. Artinya ada sekitar 30 persen nyamuk yang menggigit tetapi tidak menyebabkan DBD,” jelasnya.
Untuk langkah selanjutnya, Diskes Bontang masih menunggu rekomendasi lanjutan dari tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjadi mitra dalam program Wolbachia.
Monitoring berikutnya sebenarnya telah dilakukan pada Oktober 2025. Namun hingga kini hasil lengkapnya masih menunggu rilis resmi dari tim peneliti.
Sambil menunggu evaluasi tersebut, Diskes Bontang menegaskan bahwa program Wolbachia tetap harus dikombinasikan dengan upaya pengendalian DBD secara konvensional.
Langkah utama yang terus didorong adalah gerakan pemberantasan sarang nyamuk melalui program PSN 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Selain itu, pemerintah juga mulai mengembangkan program vaksinasi DBD sebagai langkah pencegahan tambahan.
“Intervensi Wolbachia ini membutuhkan waktu, sehingga tetap harus dikombinasikan dengan pengendalian konvensional. Yang terpenting masyarakat tetap konsisten menjalankan PSN 3M,” pungkas Ilham. (ak)
















































