BONTANGPOST.ID – Seekor orangutan betina bernama Jane berusia sekitar 15–20 tahun ditemukan bersama dua bayi jantannya, Andrianto dan Parlin, di kawasan habitat yang telah terdegradasi di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur.
Fenomena kelahiran bayi kembar pada orangutan tergolong sangat langka. Namun ironisnya, kejadian tersebut justru terjadi di tengah kondisi hutan yang rusak, sehingga induk dan kedua anaknya terpaksa turun ke tanah untuk bertahan hidup.
Temuan ini pertama kali dilaporkan masyarakat pada 15 Februari 2026 setelah video keberadaan induk orangutan dengan dua bayinya beredar luas di media sosial. Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Conservation Action Network (CAN) dan sejumlah mitra langsung melakukan pencarian di lokasi.
Direktur sekaligus Founder CAN, Paulinus Kristanto, mengatakan tim awalnya menemukan Jane bersama dua bayi orangutan di area konsesi yang terbuka setelah dua hari pencarian.
“Setelah kita lihat ukuran tubuh kedua bayi orangutan itu ternyata sama. Akhirnya kita menyimpulkan bahwa keduanya adalah bayi kembar,” ujarnya.
Menurut Paulinus, video viral yang memperlihatkan Jane dan dua bayinya berjalan di tanah menjadi indikator kondisi habitat yang kritis. Orangutan tersebut diduga sedang berusaha bertahan hidup di kawasan hutan yang telah terfragmentasi.
Ruang jelajah mereka kini terbatas akibat pembukaan lahan untuk pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.
“Kalau orangutan sampai turun ke lokasi yang tidak ada hutan sama sekali, berarti dia berusaha menyeberang ke hutan lain untuk mencari makan. Ini menunjukkan indikasi bahwa orangutan tersebut membutuhkan pertolongan,” katanya.
Ia menjelaskan kondisi Jane semakin berat karena harus memenuhi kebutuhan nutrisi dua bayi sekaligus.
“Jika sebelumnya hanya membutuhkan sekitar satu kilogram makanan per hari, sekarang kebutuhannya bisa mencapai dua kilogram. Sementara habitat seperti itu tidak mampu menyediakan sumber pakan yang cukup,” jelasnya.
Proses penyelamatan Jane dan kedua bayinya berlangsung cukup unik. Menurut Paulinus, ketiganya justru turun ke area rendah hingga ke tanah sehingga memudahkan tim dalam melakukan penanganan.
“Memang seperti ada keajaiban. Mungkin karena orangutan ini benar-benar ingin diselamatkan,” ungkapnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan, kondisi fisik Jane dinilai masih baik dan masih memungkinkan untuk hidup liar. Namun keterbatasan pakan serta keberlangsungan habitat menjadi pertimbangan penting dalam proses penyelamatan.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, menjelaskan lokasi temuan berada di kawasan hutan yang sempit dan terfragmentasi.
“Kiri kanan sudah ada berbagai kegiatan pembangunan. Jadi kemungkinan untuk bertahan hidup secara layak di lokasi tersebut cukup diragukan,” ujarnya.
Setelah proses evakuasi, Jane dan kedua bayinya kemudian ditranslokasi ke kawasan hutan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) milik sebuah perusahaan yang masih berada dalam satu lanskap Kecamatan Bengalon, sekitar 30 menit dari lokasi penemuan.
“Yang kita selamatkan adalah induk dan anak yang sudah cukup kelelahan hidup di habitat terfragmentasi dengan keterbatasan pakan dan air,” jelas Ari.
Paulinus menambahkan, kelahiran bayi kembar pada orangutan merupakan kasus yang sangat langka dan diperkirakan hanya terjadi satu dari ratusan kelahiran.
“Bayangkan seorang ibu memiliki anak kembar tanpa rumah dan tanpa makanan. Itulah yang dialami Jane,” katanya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa orangutan semakin terdesak oleh hilangnya hutan. Meski Jane dan kedua bayinya berhasil diselamatkan, kondisi ini menegaskan pentingnya perlindungan habitat yang tersisa agar keajaiban seperti ini tidak berubah menjadi tragedi di masa depan. (KP)















































