Bongkar Dugaan Penyalahgunaan BBM, Pengamat Usul Audit SPBU di Kaltim

1 day ago 13

BONTANGPOST.ID, Bontang Pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, mendorong dilakukannya audit menyeluruh terhadap seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kalimantan Timur.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengungkap dugaan penyalahgunaan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang diduga menjadi salah satu penyebab antrean panjang di sejumlah daerah, termasuk Bontang.

Purwadi menilai pengawasan distribusi BBM tidak cukup hanya mengandalkan sistem barcode. Pasalnya, sistem tersebut masih memiliki celah yang dapat dimanfaatkan oleh oknum untuk melakukan penyimpangan.

“Barcode itu pun masih bisa diakali. Karena itu, pengawasan harus diperkuat dengan sistem yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, audit dapat dilakukan dengan mencocokkan data distribusi BBM yang diterima setiap SPBU dengan data kendaraan yang melakukan pengisian.

Selain itu, rekaman kamera pengawas (CCTV) di setiap SPBU juga dapat dimanfaatkan untuk menelusuri dugaan praktik yang tidak sesuai aturan.

“Jadi bisa dilihat apakah ada praktik yang tidak sesuai aturan,” katanya.

Purwadi juga mendorong Pertamina memperkuat digitalisasi sistem distribusi BBM secara lebih terbuka. Salah satunya dengan menyediakan informasi ketersediaan stok BBM di setiap SPBU yang dapat diakses masyarakat secara real time.

Menurutnya, keterbukaan informasi tersebut akan memudahkan masyarakat mengetahui SPBU yang masih memiliki stok BBM, sekaligus meningkatkan transparansi dalam proses distribusi.

“Harusnya masyarakat bisa mengetahui SPBU mana yang stoknya masih tersedia. Distribusi mobil tangki juga sebaiknya bisa dipantau sehingga lebih transparan,” ucapnya.

Tak hanya itu, ia meminta pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada penertiban di lapangan, tetapi juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola distribusi BBM bersama Pertamina dan instansi terkait.

Purwadi menilai antrean BBM yang terus berulang menjadi indikasi bahwa persoalan distribusi belum terselesaikan secara menyeluruh. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan para pengendara, tetapi juga pelaku usaha di sekitar SPBU serta aktivitas masyarakat secara umum.

“Efek dominonya besar. Pedagang terganggu, masyarakat kehilangan waktu karena harus mengantre berjam-jam. Persoalan ini harus diselesaikan dari hulu sampai hilir,” pungkasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |