Perang Iran Hantam Devisa Pariwisata, Timur Tengah Terancam Boncos US$40 Miliar

13 hours ago 7

Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) alias UN Tourism memperkirakan bahwa konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah berisiko menekan kinerja pariwisata secara signifikan, antara lain kerugian devisa hingga mencapai US$40 miliar serta penurunan kunjungan wisatawan internasional hingga 28% pada tahun ini.

UN Tourism menyatakan gangguan utama berasal dari penutupan wilayah udara di Timur Tengah dan merosotnya kepercayaan wisatawan. Dampak ini langsung memukul mobilitas penerbangan internasional yang menjadi tulang punggung konektivitas di kawasan itu.

Lembaga pariwisata global ini kemudian mengungkapkan tiga skenario dalam memperkirakan kondisi pariwisata Timur Tengah hingga akhir tahun. Dalam skenario terburuk, kedatangan wisatawan internasional dapat turun 24% hingga 28%, setara dengan 24 juta–28 juta wisatawan internasional atau sekitar 2% dari total perjalanan secara global.

“Gangguan perjalanan ini diperkirakan akan menyebabkan kerugian sebesar US$40 miliar dalam pengeluaran wisatawan di destinasi Timur Tengah,” tulis UN Tourism di situs resminya, dikutip pada Senin (13/4/2026).

Lebih lanjut, skenario ini mengasumsikan gangguan signifikan pariwisata selama tiga bulan berturut-turut. Pemulihan diperkirakan memakan lima hingga enam bulan setelah penerbangan kembali dibuka, alias jatuh padar Oktober atau November 2026.

Skenario berikutnya atau menengah, gangguan pariwisata diperkirakan berlangsung selama dua bulan. Penurunan kunjungan diperkirakan mencapai 20% hingga 23% atau setara 20 juta hingga 23 juta wisatawan, sementara kerugian devisa pariwisata ditaksir menyentuh US$35 miliar.

Sementara itu dalam skenario paling ringan, gangguan diperkirakan berlangsung selama satu bulan, dan berpotensi menurunkan kedatangan wisatawan internasional sebesar 12% hingga 13% atau setara 12 juta hingga 13 juta kunjungan. Penurunan ini berimplikasi pada potensi kehilangan pendapatan pariwisata sebesar US$18 miliar hingga US$20 miliar.

“Tidak hanya negara yang terdampak langsung, efek rambatan juga dirasakan oleh negara lain yang bergantung pada hub penerbangan Timur Tengah seperti Dubai dan Doha. Gangguan konektivitas ini memicu penurunan arus wisata lintas kawasan,” lanjut laporan tersebut.

Selain itu, ketidakpastian keamanan dan potensi gangguan operasional penerbangan dipastikan telah mendorong wisatawan menunda perjalanan.

UN Tourism juga menilai bahwa wisatawan cenderung bersikap wait and see terkait rencana perjalanan yang menuju atau melintasi Timur Tengah. Alhasil, aspek permintaan melemah tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga di destinasi global yang terhubung dengan kawasan tersebut.

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |