BONTANGPOST.ID – Patung gajah berukuran besar dari Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur (Kutim), belakangan menjadi perbincangan di media sosial. Patung yang dibuat masyarakat setempat itu dikirim untuk Joko Widodo dan menjadi bentuk apresiasi yang digagas kelompok Santri Bersatu.
Di balik ukurannya yang mencolok, patung tersebut ternyata masih berupa prototipe. Pembuatannya dilakukan pengrajin lokal di Kongbeng menggunakan kayu, bambu, dan kertas. Gagasan pembuatan patung datang dari Muhammad Yasin Bowo, pencetus Santri Bersatu di Kongbeng.
Menurutnya, patung gajah sengaja dipilih karena memiliki filosofi kekuatan, persatuan, kewibawaan, sekaligus toleransi.
“Kalau filosofi besarnya, patung gajah ini menggambarkan kekuatan, keseriusan dan kewibawaan. Gajah juga merupakan binatang yang bertoleransi kepada siapa saja,” ujar Bowo.
Filosofi tersebut juga dikaitkan dengan sosok Patih Gajah Mada dan Sumpah Palapa. Bowo menyebut semangat tersebut menggambarkan tekad untuk menyatukan Nusantara.
Pemilihan simbol gajah juga tidak lepas dari kondisi masyarakat Kongbeng yang terdiri dari berbagai suku, adat istiadat, dan budaya. Karena itu, patung tersebut diharapkan dapat menggambarkan semangat kebersamaan di tengah keberagaman.
Patung diberangkatkan dari Kutai Timur sekitar 9 Agustus. Dalam perjalanan, patung dibawa ke Solo untuk disampaikan kepada Joko Widodo, Jumat (11/9). Setelah itu, patung tersebut direncanakan dibawa ke Jakarta untuk ditempatkan di lingkungan kantor PSI.
Dengan demikian, Solo menjadi bagian dari proses penyerahan kepada Jokowi, sedangkan Jakarta merupakan lokasi yang direncanakan sebagai tujuan akhir patung tersebut.
Bowo mengatakan, patung itu diberikan sebagai bentuk apresiasi dan ungkapan terima kasih Santri Bersatu kepada Jokowi atas sejumlah program dan gagasan yang pernah dijalankan saat masih menjadi presiden.
“Ini bentuk apresiasi atau terima kasih kita kepada Pak Jokowi yang telah mengawal program pembacaan Al-Quran secara nasional di Hari Santri Nasional,” katanya.
Bowo memastikan pembuatan patung dilakukan secara mandiri oleh Santri Bersatu. Dia menyebut tidak ada pembiayaan dari partai politik, donatur maupun Joko Widodo.
Biaya pembuatan patung diperkirakan sekitar Rp60 juta. Sementara setelah ditambah ongkos perjalanan dan pengiriman, total pengeluaran disebut mencapai sekitar Rp90 juta.
Patung tersebut belum menjadi bentuk final. Menurut Bowo, prototipe yang dikirim ke Solo nantinya dikembangkan menggunakan material fiber dan resin agar lebih kuat serta memiliki bentuk yang lebih permanen.
“Sementara bahannya kayu, bambu dan kertas. Nanti akan dibuat menggunakan fiber dan resin,” jelasnya. (juf/kpg)












































