Bisnis.com, JAKARTA — Serangkaian indikator konsumsi dan aktivitas industri pada awal triwulan II/2026 menunjukkan daya beli masyarakat belum melemah meski tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi masih membayangi.
Pemerintah pun mulai melihat peluang pemulihan ekonomi yang lebih cepat setelah sejumlah data konsumsi dan investasi berbalik menguat pada April 2026.
Optimisme itu muncul setelah penjualan kendaraan bermotor kembali melonjak pascalebaran. Data yang dipaparkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan penjualan mobil pada April 2026 tumbuh 55% secara tahunan, sedangkan penjualan motor naik 28,1%.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Maret 2026 ketika penjualan kendaraan masih terkontraksi. Purbaya menilai lonjakan pada April menjadi sinyal bahwa konsumsi masyarakat masih terjaga.
“Jadi, daya beli masyarakat masih ada,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi Mei 2026, Selasa (19/5/2026) .
Menurutnya, akselerasi konsumsi berpotensi berlanjut pada Juni 2026 seiring rencana pemerintah menggelontorkan insentif kendaraan listrik.
“Juni, saya pikir akan tumbuh lebih cepat lagi, karena pemerintah akan mengeluarkan insentif untuk mobil listrik dan motor listrik. Kita ingin ada stimulus tambahan di perekonomian,” katanya.
Optimisme tersebut juga tercermin dari indeks keyakinan konsumen yang masih berada di level tinggi meski sedikit menurun pada April 2026. Dalam paparan yang disampaikan Purbaya, indeks keyakinan konsumen tercatat berada di level 123,0.
Selain konsumsi rumah tangga, aktivitas industri mulai menunjukkan perbaikan. Konsumsi BBM industri dan transportasi meningkat pada April 2026. Penjualan listrik juga tumbuh, didorong konsumsi rumah tangga, bisnis, dan industri.
Data PLN menunjukkan total penjualan listrik tumbuh 19% secara tahunan pada April 2026. Segmen bisnis tumbuh 11,9%, industri 17,1%, dan rumah tangga 23%.
“Industri mulai jalan lagi,” kata Purbaya.
Sinyal pemulihan juga mulai terlihat dari konsumsi semen domestik yang melonjak 35,6% secara tahunan pada April 2026. Purbaya menilai kenaikan konsumsi semen biasanya berkorelasi dengan aktivitas pembangunan dan investasi.
“Konsumsi semen domestik naik juga di bulan April. Biasanya konsumsi semen berhubungan dengan pembangunan. Di PDB-nya itu ditarik ke investasi nanti. Jangan-jangan investasi akan tumbuh cepat juga di triwulan kedua tahun ini,” ujarnya.
Purbaya mengaku sempat pesimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi triwulan II/2026. Namun, perubahan tren sejumlah indikator konsumsi dan industri membuat pemerintah mulai melihat peluang pertumbuhan yang lebih baik.
“Data ini mengagetkan saya juga. Tadi saya agak pesimis tentang triwulan kedua, tetapi setelah melihat data seperti ini, bagus,” katanya.
Menurut dia, pemerintah tidak hanya melihat persepsi atau sentimen pasar dalam membaca kondisi ekonomi, melainkan mengacu pada perkembangan data riil dari waktu ke waktu.
“Saya bukan bicara atas opini saya saja. Saya lihat data, saya terjemahkan, tim kami di keuangan menerjemahkan data ini dari waktu ke waktu,” ujar Purbaya.
Data yang dipaparkan menunjukkan normalisasi konsumsi masyarakat pascalibur Idulfitri mulai diimbangi percepatan implementasi program prioritas pemerintah. Konsumsi rumah tangga masih relatif stabil, sementara aktivitas sektor industri dan transportasi kembali meningkat.
Meski demikian, tren pemulihan tersebut masih akan sangat bergantung pada keberlanjutan stimulus pemerintah dan kemampuan menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan global serta ketidakpastian ekonomi eksternal.

13 hours ago
10






































