BONTANGPOST.ID, Bontang – Persoalan sampah menjadi perhatian serius Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, dalam arahannya kepada pejabat baru, camat, lurah, hingga kepala puskesmas, Kamis (21/5/2026).
Neni menegaskan seluruh wilayah harus bergerak aktif menjalankan program kebersihan lingkungan. Bahkan, ia menargetkan dalam waktu tiga bulan kondisi kebersihan di Kota Bontang sudah menunjukkan perubahan signifikan.
“Saya ingin ada progres nyata. Minimal terukur apa yang sudah dilakukan untuk membuat wilayah lebih bersih,” kata Neni.
Menurutnya, penanganan sampah tidak cukup hanya dilakukan pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan program kebersihan lingkungan.
Neni mengakui mengubah perilaku masyarakat bukan hal mudah. Namun, ia meminta seluruh jajaran pemerintah tidak menyerah dalam melakukan edukasi kepada masyarakat.
“Change of behavior itu memang sulit. Tapi jangan menyerah. Kita harus sabar mengedukasi masyarakat,” ujarnya.
Ia meminta camat dan lurah turun langsung memimpin gerakan kebersihan lingkungan. Jalur drainase, parit, hingga sungai harus dipastikan bersih dari gulma dan sedimentasi yang berpotensi memicu banjir.
Dalam arahannya, Neni juga menyinggung masih adanya sejumlah titik di Kota Bontang yang dipenuhi sampah dan gulma. Ia mengaku kerap turun langsung memantau kondisi wilayah tanpa pengawalan.
“Saya keliling sendiri melihat kondisi wilayah. Masih ada beberapa titik yang perlu perhatian serius,” tuturnya.
Untuk memperkuat gerakan tersebut, Neni meminta seluruh aparatur sipil negara (ASN) menjadi contoh dalam pengelolaan sampah rumah tangga dengan memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
Ia juga menegaskan pentingnya penguatan bank sampah di tingkat RT dan kelurahan sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular.
“Sesungguhnya sampah itu berkah kalau bisa dikelola dengan baik,” terangnya.
Selain itu, Pemkot Bontang juga tengah menyiapkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) melalui dukungan pendanaan pemerintah pusat.
Menurut Neni, nantinya sampah yang masuk ke sanitary landfill hanyalah residu akhir setelah melalui proses pemilahan. Karena itu, seluruh perangkat daerah diminta memahami konsep pengelolaan sampah modern agar program berjalan maksimal.
“Kalau tidak paham soal residu dan TPST, bagaimana mau menjalankan program dengan baik,” tegasnya.
Neni juga mengajak masyarakat ikut aktif membangun citra Kota Bontang sebagai kota yang bersih dan nyaman.
“Kalau bukan kita yang membangun branding kota ini, siapa lagi,” pungkasnya.
Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku (Gesit), lanjut Neni, menjadi bagian dari visi besar menjadikan Kota Bontang bebas sampah dengan kualitas lingkungan yang lebih sehat. (ak)

















































