BONTANGPOST.ID, Bontang – Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di RSUD Taman Husada Bontang telah menembus angka 85 persen. Angka ini melampaui ambang batas ideal pelayanan rumah sakit dan berdampak langsung pada kepadatan layanan, khususnya di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Direktur Utama RSUD Taman Husada Bontang, dr Suhardi, mengatakan secara ideal BOR rumah sakit berada di kisaran 60 hingga 80 persen. Ketika keterisian tempat tidur melampaui angka tersebut, pelayanan dipastikan mengalami tekanan.
“BOR kami sekarang sudah di atas 85 persen. Itu sudah tidak sehat. Kalau sudah di atas 80 persen, rumah sakit pasti kewalahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tingginya BOR menjadi salah satu penyebab utama munculnya keluhan masyarakat, mulai dari antrean panjang di IGD hingga pasien yang terpaksa menunggu atau bahkan ditolak karena keterbatasan kamar rawat inap.
“Banyak yang komplain kenapa lama di IGD atau pasien ditolak. Mau ditaruh di mana? Kamarnya memang penuh,” ucapnya.
Saat ini, RSUD Taman Husada memiliki sekitar 200 unit tempat tidur. Meski telah menerapkan sistem Kelas Rawat Inap Standar (KRIS), Suhardi menegaskan kebijakan tersebut tidak mengurangi jumlah tempat tidur secara signifikan.
“Dengan KRIS tidak ada pengaruh ke jumlah bed. Hanya pengaturan ruang, yang sebelumnya enam bed menjadi empat. Total bed tetap sekitar 200,” jelasnya.
Menurutnya, lonjakan BOR murni disebabkan meningkatnya jumlah pasien, bukan akibat pengurangan kapasitas. Selain itu, terdapat layanan tertentu yang memerlukan ruang khusus, seperti pasien kanker dan kemoterapi, yang tidak bisa dialihkan ke ruangan lain meskipun tersedia.
“Pasien kanker atau kemoterapi harus dirawat di ruang khusus. Tidak bisa sembarangan dipindahkan karena risikonya,” tambahnya.
Terkait rencana pembangunan Gedung C RSUD Taman Husada, Suhardi menyebut kebutuhan gedung baru tersebut sudah sangat mendesak. Berdasarkan perencanaan, gedung akan dibangun setinggi delapan lantai di atas lahan milik rumah sakit yang telah tersedia.
Namun, realisasi pembangunan masih bergantung pada kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bontang. Meski Detail Engineering Design (DED) telah rampung, kepastian pembangunan belum dapat ditentukan.
“DED sudah selesai. Tinggal pelaksanaan, tapi semua tergantung kesehatan APBD. Kalau ada anggarannya, kami siap,” jelasnya.
Berdasarkan perhitungan DED, kebutuhan anggaran pembangunan gedung baru tersebut diperkirakan mencapai Rp300 hingga Rp400 miliar. Manajemen rumah sakit, kata Suhardi, hanya menyiapkan aspek teknis, sementara keputusan anggaran berada di kewenangan Pemerintah Kota Bontang.
“Gedung itu sangat dibutuhkan. Tapi nasibnya memang masih menggantung, tergantung kemampuan APBD,” pungkasnya. (ak)















































