BONTANGPOST.ID, Bontang – Kemarau panjang menjadi peringatan bagi Pemkot Bontang untuk menyiapkan sumber air alternatif. Salah satu opsi yang kini mulai dikaji ialah desalinasi air laut guna mengurangi ketergantungan terhadap air bawah tanah atau deep well.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan, opsi desalinasi sebelumnya telah ditawarkan oleh seorang investor asal China. Namun, tawaran tersebut masih perlu dikaji secara menyeluruh sebelum pemerintah menentukan langkah selanjutnya.
“Jangka panjangnya ada investor menawarkan untuk desalinasi,” ungkap Neni.
Menurutnya, kajian diperlukan untuk menghitung kebutuhan anggaran, membandingkan biaya produksi dengan sumber air yang digunakan saat ini, serta melihat kebutuhan lain yang berkaitan dengan pengembangan teknologi desalinasi.
Neni mengaku telah meminta jajaran asisten dan Sekretaris Daerah (Sekda) Bontang untuk melakukan kajian tersebut. Setelah hasil kajian diperoleh, pemerintah akan kembali memanggil investor untuk membahas tawaran desalinasi.
“Sudah saya suruh mengkaji para asisten dan Sekda. Setelah itu kita panggil investornya,” katanya.
Selain desalinasi, ketergantungan terhadap deep well juga menjadi perhatian pemerintah apabila kemarau panjang terus berlangsung. Neni menyebut kondisi air bawah tanah saat ini masih dalam batas aman. Namun, penggunaan secara terus-menerus tetap perlu diantisipasi karena berpotensi memengaruhi kondisi tanah.
Pemkot Bontang juga menyiapkan langkah untuk menjaga daerah resapan air. Upaya tersebut dilakukan melalui penggalakan penanaman pohon serta mempertahankan ruang terbuka hijau dengan target lebih dari 30 persen.
Di sisi lain, pembatasan distribusi air dilakukan melalui sistem penggiliran oleh Perumda Air Minum untuk mengantisipasi penurunan pasokan. Kondisi tersebut terjadi setelah pasokan air disebut mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen.
Neni menegaskan, penggiliran distribusi merupakan langkah mitigasi agar penggunaan cadangan air bawah tanah tidak berlebihan selama musim kemarau masih berlangsung.
“Deep well kita masih dalam batas aman-aman saja, tetapi kan kita harus melakukan giliran, antisipasi, mitigasi. Kalau enggak kan habis juga,” pungkasnya. (*)

















































