Bukan Temindung, Inilah Bandara Pertama di Samarinda

2 days ago 14

BONTANGPOST.ID, Samarinda – Sebelum Bandara Temindung resmi dibuka pada 1974, Kota Samarinda ternyata sudah lebih dulu mencicipi transportasi udara. Bedanya, pesawat tidak mendarat di daratan, melainkan di Sungai Mahakam.

Sungai terpanjang di Kalimantan itu menjadi lokasi pendaratan pesawat amfibi jenis Catalina yang bahkan pernah membawa Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno. Fakta tersebut menjadikan Mahakam sebagai bagian penting dalam sejarah penerbangan di Kalimantan Timur.

Penulis buku Sungai Mahakam Dalam Arus Sejarah dan Budaya Samarinda, Muhammad Sarip, menyebut Sungai Mahakam sebagai “bandara pertama” Kota Tepian. Menurutnya, pada era 1960-an, pesawat amfibi Catalina kerap digunakan sebagai sarana transportasi udara di Samarinda.

Bentangan sungai yang lebar dengan arus relatif tenang menjadikan Mahakam lokasi pendaratan yang ideal bagi pesawat amfibi. Namun, penggunaan sungai sebagai lapangan terbang tidak berlangsung lama. Kontak air yang terus-menerus dengan bodi dan mesin pesawat menyebabkan peralatan cepat mengalami keausan.

Kondisi tersebut mendorong kebutuhan akan landasan darat, yang kemudian diwujudkan melalui pembangunan Bandara Temindung pada awal 1970-an.

Momen paling bersejarah dari era “bandara sungai” terjadi pada 1949, saat Presiden Sukarno berkunjung ke Samarinda menggunakan pesawat amfibi PB Catalina. Sarip mencatat, pesawat tersebut merupakan satu dari delapan unit hibah bekas Angkatan Udara Hindia Belanda yang diterima pemerintah Indonesia setelah pengakuan kedaulatan.

Pesawat Catalina memiliki dimensi cukup mencolok untuk ukuran pesawat sungai, dengan panjang 19,35 meter, tinggi 6,85 meter, dan bentang sayap mencapai 31,69 meter. Dua baling-baling besar terpasang di sisi kiri dan kanan pesawat.

Saat mendarat di tengah Sungai Mahakam, Presiden Sukarno tidak langsung turun ke daratan. Ia berpindah ke kapal kecil yang menjemputnya menuju batang, sebutan lokal untuk dermaga sungai.

Pendaratan pesawat Catalina kembali tercatat pada 17 September 1950. Peristiwa serupa juga terdokumentasi dalam foto wartawan Belanda, Oltmans Willie, pada 19 Juli 1957. Dalam foto-foto tersebut, Bung Karno terlihat mengenakan kacamata hitam dan memegang payung hitam saat menaiki kapal kecil menuju dermaga Samarinda, dengan latar kapal-kapal dan bangunan di tepian sungai.

Di dalam kapal yang sama, tampak pula Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Gubernur pertama Kalimantan Timur, yang mendampingi Presiden dalam perjalanan tersebut.

“Dua kali pendaratan pesawat yang membawa kepala negara pertama di Mahakam semakin mengukuhkan sungai ini sebagai lokasi penuh nostalgia dan bernilai sejarah dalam penerbangan Indonesia,” ujar Sarip.

Kini Sungai Mahakam tak lagi menjadi lokasi pendaratan pesawat. Namun, jejak sejarah itu masih tersimpan dalam ingatan kolektif. Setelah Bandara Temindung beroperasi pada 1974, aktivitas penerbangan beralih dari sungai ke daratan. Temindung kemudian digantikan oleh Bandara APT Pranoto yang melayani penerbangan Samarinda hingga saat ini. (KP)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |