BONTANGPOST.ID, Bontang – Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Bontang menegaskan retribusi masuk kawasan wisata Pulau Beras Basah tidak mencakup layanan kebersihan.
Kepala Dispopar Bontang Eko Mashudi, mengatakan retribusi yang dipungut saat ini murni untuk tiket masuk kawasan wisata.
“Retribusi ini hanya untuk tiket masuk, tidak termasuk kebersihan,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, pengelolaan sampah di kawasan tersebut menjadi kewenangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Sementara itu, retribusi kebersihan telah dibebankan melalui pembayaran rekening air PDAM.
Meski demikian, Dispopar tetap menyediakan tempat sampah sementara di Pulau Beras Basah. Pengunjung juga diimbau membawa kembali sampahnya ke kapal.
Bahkan, pihaknya menyediakan kantong plastik untuk memudahkan pengunjung mengangkut sampah.
“Nanti setelah turun di pelabuhan, sampah bisa dibuang di tempat yang tersedia dan akan diangkut DLH,” jelasnya.
Eko mengakui pengelolaan kebersihan di pulau tersebut masih belum maksimal. Hal ini disebabkan belum adanya petugas khusus yang siaga di lokasi.
“Memang belum ada petugas yang standby di sana. Kendalanya keterbatasan personel dan anggaran,” ungkapnya.
Sebagai upaya meningkatkan kesadaran, Dispopar terus menggencarkan sosialisasi program Gesit (Gerakan Sampahku Tanggung Jawabku) agar pengunjung turut menjaga kebersihan kawasan wisata.
Di sisi lain, penerimaan retribusi mulai menunjukkan potensi. Selama H+1 hingga H+3 Lebaran, pendapatan dari tiket masuk diperkirakan mencapai Rp18 juta hingga Rp20 juta.
Menanggapi hal itu, pemerintah telah membangun sejumlah fasilitas di Pulau Beras Basah, seperti jembatan pelabuhan, gazebo, dan toilet.
“Fasilitas sudah kami bangun. Ke depan tentu akan terus dibenahi,” katanya.
Terkait pengelolaan kawasan, Dispopar juga mulai mengkaji kemungkinan melibatkan pihak ketiga. Namun, proses tersebut masih memerlukan kajian mendalam serta koordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Kami masih akan kaji. Arahan wali kota juga ingin agar bisa dikonteskan, jadi harus dihitung betul potensinya,” pungkasnya. (*)


















































