BONTANGPOST.ID – Lanjong di pundak Syamsiah sudah penuh berisi tangkai-tangkai padi. Perempuan adat suku Balik itu lalu berjalan pelan menuju pondok kayu sederhana di tepi ladangnya di Kampung Sepaku Lama, Penajam Paser Utara (PPU).
Di bawah atap seadanya, ia duduk melepas lelah sambil sesekali menarik tali panjang yang membentang hingga ujung ladang.
Saat tali itu digerakkan, plastik-plastik yang terikat di sepanjang bentangan menimbulkan suara gemerisik.
Cara sederhana itu digunakan untuk mengusir burung pipit yang terus mengintai bulir padi yang mulai menguning.
Namun perhatian Syamsiah tak lama tertuju pada sawahnya. Tatapannya beralih ke lahan kosong di sebelah ladang yang kini mulai dirintis alat berat. Ekskavator terlihat membuka kawasan baru. Ia menduga lahan itu akan ditanami sawit.
Perempuan paruh baya itu lalu menarik napas panjang sebelum mulai bercerita tentang hari ketika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai mendekat ke kampungnya.
Ia mengaku pernah didatangi perwakilan Otorita IKN di rumahnya. Saat itu, kekhawatiran tentang penggusuran mulai menghantui warga yang tinggal di kawasan delineasi ibu kota baru.
“Memang betulkah tanah ini mau digusur? Ya sudah, sekarang saja pak. Mumpung saya masih kumpul sama anak-cucu,” ujarnya mengenang percakapan itu.
Kalimat tersebut meluncur pelan, terdengar lebih seperti kepasrahan daripada penolakan. Bagi Syamsiah, ancaman kehilangan lahan bukan sekadar kehilangan tempat tinggal.
Ladang itu adalah sumber hidup yang selama puluhan tahun menghidupi keluarganya. Di sana tumbuh padi gunung, sayur-mayur, tanaman obat, hingga buah-buahan.
Ia mengaku sulit membayangkan hidup tanpa tanah garapan. “Kalau tinggal di rumah-rumah itu, bagaimana kita mau hidup? Kita biasa berkebun,” katanya.
Di tengah geliat pembangunan IKN, kegelisahan seperti yang dirasakan Syamsiah perlahan menjadi cerita banyak warga adat di Sepaku.
Mereka menyaksikan perubahan besar datang semakin dekat, sementara ruang hidup yang selama ini mereka jaga perlahan menyempit.
Potret udara proyek kawasan legislatif di IKN. Otorita IKN menyebut saat ini pembangunan IKN terus berlangsung sesuai tahapan pemerintah. (HUMAS OIKN)SUNGAI DITEMBOK
Syamsiah sebenarnya punya dua kediaman, 2024 lalu dia baru sedikit demi sedikit bangun rumah kebun sederhana. Rumah pertamanya di Kampung dan di sanalah masalah lain menantinya.
Rumah pertama ini berdiri tak jauh dari proyek Intake Sepaku, infrastruktur pengambilan air baku yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan IKN.
Dulu, sekitar tiga-lima meter ke belakang rumah ada sungai. Airnya mengalir, digunakan sebagian besar masyarakat termasuk Syamsiah.
Sungai ini perannya vital sekali bagi kehidupan perempuan, untuk mencuci, memasak, memancing udang atau ikan, bisa disebut dapur kedua.
“Sayur pakis di situ tumbuhnya di pinggir sungai, kerang-kerang, siput-siput. Banyak sekali manfaatnya sebenarnya,” terangnya.
Kini, sungai itu dibangun tembok keliling agar airnya mengalir ke Intake. Jelas, akses warga ke sumber air yang selama ini menghidupi mereka tertutup sepenuhnya.
Sudah jatuh tertimpa tangga, setelah tembok itu dibangun tiap masuk musim penghujan, mau tak mau warga harus berhadapan dengan banjir.
Selain itu air yang mengendap di bawah kolong-kolong rumah warga menimbulkan bau dan nyamuk, lingkungan yang tadinya sehat, perlahan jadi layu.
SERBA BELI
Kehilangan sungai berarti kehilangan sumber air gratis yang selama ini tak terhitung nilainya. Sekarang, Syamsiah jadi harus membeli air.
Satu tandon air dihargai Rp100 ribu diantarkan sampai rumahnya. Untuk dia dan suaminya, satu tandon itu bisa tahan tiga sampai empat hari. Belum lagi kalau ada anggota keluarganya yang lain, tandon hanya bisa bertahan paling 2 hari.
Kantongnya yang tak dalam itu memang tak sanggup untuk beli air tandon terus terusan, Syamsiah hanya bisa mencari tambahan lewat berjualan kue tradisional yang seperti donat dan bolu jadul, yang dihargai 2 ribu per bijinya.
Modalnya juga terbatas, tak banyak yang bisa dia jual paling-paling 20-40 biji saja yang bisa diproduksi, itu juga tak bisa tiap hari dia berjualan.
Sebagai perempuan, dia sudah berusaha semampunya, menghemat, mengirit, menghitung, tapi beban ini saban hari menggerogoti tubuhnya secara fisik. “Kemarin memang sudah sakit, sekarang makin tambah sakit lah aku,” serunya.
Untuk semua yang terjadi di lingkungan tempatnya tinggal, Syamsiah punya satu ketakutan besar yang dia simpan, yakni banjir bandang seperti yang terjadi di Sumatra. Daerah yang hutannya habis oleh perusahaan kayu. Ia tak bisa membayangkan Sepaku.
“Saya pikir tuh ada banjir kaya yang saya lihat berita di Facebook, itu ‘kan ulahnya perusahaan kayu semua. Di sini juga sama ada perusahaan kayu, ada intake. Mana tahu ada banjir bandang keluarga saya di bawah (di rumah kampung) mati semua karena ada banjir bandang, jangan sampai lah,” ucapnya sambil bergidik. (Nasya/KP)

















































