Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Warga Kaltim Terancam Hadapi Kenaikan Harga Pangan

12 hours ago 15

BONTANGPOST.ID – Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Mei 2026 mulai memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional, termasuk di Kalimantan Timur.

Angka tersebut jauh melampaui asumsi makro pemerintah tahun 2026 yang sebelumnya dipatok di level Rp16.500 per dolar AS.

Apabila pelemahan rupiah terus berlanjut tanpa langkah pengendalian yang kuat, masyarakat diprediksi akan mulai merasakan dampaknya melalui kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup akibat inflasi barang impor.

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Rijadh Djatu Winardi, Ph.D., mengatakan dampak paling nyata akan terlihat pada kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.

Menurutnya, industri yang masih bergantung pada bahan baku impor hampir dipastikan melakukan penyesuaian harga dalam beberapa bulan mendatang.

“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi naik, hingga produk kesehatan yang ikut terdampak karena ketergantungan pada bahan impor,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).

Tak hanya memukul daya beli masyarakat, pelemahan rupiah juga dinilai mempersempit ruang fiskal pemerintah. Beban subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri dalam denominasi dolar disebut akan ikut membengkak.

Kondisi tersebut dikhawatirkan mengurangi fleksibilitas pemerintah dalam membiayai sektor publik lain seperti pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan sosial.

“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka kemampuan pemerintah membiayai sektor lain menjadi terbatas,” tambahnya.

Senada, Dosen FEB Universitas Andalas (Unand), Dr. Hefrizal Handra, menilai kombinasi tekanan nilai tukar, kenaikan subsidi energi, dan potensi penurunan dana transfer daerah dapat memicu penyesuaian risiko di pasar keuangan nasional.

Meski demikian, ia menyebut sektor riil Indonesia sejauh ini masih relatif bertahan sehingga pemerintah perlu bergerak cepat agar situasi tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga memberi keuntungan bagi sektor ekspor. Dosen FEB UGM, Eddy Junarsin, Ph.D., menyebut produk Indonesia kini menjadi lebih kompetitif di pasar internasional karena harganya relatif lebih murah.

Kondisi itu dinilai berpotensi meningkatkan volume ekspor dan menarik investasi asing langsung ke Indonesia.

Namun keuntungan tersebut disebut belum tentu dirasakan sektor manufaktur dan industri yang masih bergantung pada impor mesin, alat berat, serta bahan baku dari luar negeri karena biaya produksi tetap mengalami kenaikan. (KP)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |