BONTANGPOST.ID – Hipertensi masih menjadi penyakit paling banyak diidap masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim). Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, dari 566.991 warga yang mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang Januari hingga November 2025, tercatat 110.137 orang menderita hipertensi.
Di posisi kedua ada diabetes melitus dengan 30.067 kasus, disusul obesitas sebanyak 17.158 kasus. Ketiganya menjadi penyakit tidak menular (PTM) tertinggi dari total 22 jenis penyakit yang diperiksa, dengan kelompok usia terbanyak berada di rentang 40–59 tahun.
Temuan ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat Kaltim untuk lebih memperhatikan gaya hidup. Menurut dr. Carta Agrawanto Gunawan, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, hipertensi memang sering terjadi seiring bertambahnya usia.
“Semakin tinggi usia seseorang, risikonya juga meningkat. Orang berusia 40, 50, atau 60 tahun lebih rentan dibandingkan usia 20 atau 30 tahun,” jelasnya, Senin (11/11).
Carta menjelaskan, faktor usia membuat pembuluh darah menjadi lebih kaku, sehingga tekanan darah cenderung meningkat. Meski begitu, faktor genetik juga dapat berperan, terutama jika kedua orang tua memiliki riwayat hipertensi.
“Anaknya memang tidak selalu akan menderita hipertensi, tapi risikonya lebih tinggi dibandingkan orang lain,” tambahnya.
Namun, ia menegaskan, pola hidup dan pola makan tidak sehat menjadi penyebab paling dominan. Kurangnya aktivitas fisik, stres berkepanjangan, serta konsumsi makanan tinggi garam dan lemak sangat memengaruhi tekanan darah.
“Fast food, garam berlebih, kebiasaan merokok, dan alkohol juga memperparah kondisi. Ditambah berat badan berlebih atau obesitas yang membuat jantung bekerja lebih keras,” ujarnya.
Selain itu, penyakit seperti diabetes melitus dan gangguan ginjal kronis dapat memperburuk tekanan darah. Carta juga mengingatkan, beberapa obat bebas seperti pil KB, suntik KB, dan obat antinyeri bisa memicu kenaikan tekanan darah bila digunakan tanpa pengawasan dokter.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan membeli obat dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Hipertensi ini tidak berdiri sendiri. Banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari usia, genetik, hingga gaya hidup. Maka pencegahan paling efektif adalah menjaga pola makan, rutin olahraga, dan melakukan deteksi dini,” tutupnya. (KP)
















































