BONTANGPOST.ID, Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang terus memperkuat langkah pencegahan stunting melalui perpanjangan Operasi Timbang Balita dengan metode jemput bola. Program ini dilakukan agar seluruh anak di Bontang dapat terpantau tumbuh kembangnya secara menyeluruh.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menjelaskan bahwa pelaksanaan Operasi Timbang Jilid II yang sebelumnya digelar di 15 kelurahan akan kembali dilanjutkan dengan pendekatan aktif oleh kader posyandu.
“Kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Kader akan mendatangi langsung rumah-rumah balita yang belum sempat hadir ke posyandu,” ungkap Neni, Minggu (9/11/2025).
Ia menegaskan, tujuan utama dari langkah lanjutan ini adalah memastikan tidak ada balita yang terlewat dari proses evaluasi pertumbuhan. “Kami ingin semua anak di Bontang mendapatkan perhatian penuh sejak dini, karena di situlah kunci pencegahan stunting,” jelasnya.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, sebanyak 11 kelurahan telah mencapai 100 persen cakupan penimbangan, termasuk Tanjung Laut, Api-Api, Loktuan, dan Gunung Telihan.
Namun empat kelurahan lainnya—Bontang Lestari, Berebas Tengah, Berbas Pantai, dan Satimpo—masih belum memenuhi target. Satimpo tercatat sebagai wilayah dengan capaian terendah, yakni 95,06 persen.
Dari total 9.702 balita sasaran, sebanyak 9.674 anak sudah ditimbang, menyisakan 28 anak yang belum terdata.
Dalam kunjungannya ke Posyandu Perum PAMA Bontang Lestari, Wali Kota Neni menilai setiap hasil penimbangan menjadi dasar penting dalam kebijakan gizi dan kesehatan anak.
“Kalau kita bisa deteksi lebih cepat, intervensi juga bisa dilakukan segera,” tegasnya.
Selain memperpanjang kegiatan Operasi Timbang, Pemkot Bontang juga memastikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) tetap berlanjut. Para kader posyandu akan mendapat pelatihan tambahan untuk memperkuat pendampingan gizi bagi masyarakat.
“Mereka ujung tombak kita di lapangan, jadi harus dibekali kemampuan yang baik,” tambah Neni.
Sejak Operasi Timbang Jilid I digelar pada Mei lalu, Bontang berhasil menekan angka stunting menjadi 17,4 persen—penurunan tertinggi di Kalimantan Timur. Melalui strategi jemput bola ini, Pemkot optimistis angka tersebut akan terus menurun hingga akhir 2025.
“Ini bukan sekadar program, tapi wujud komitmen kami memastikan setiap anak Bontang tumbuh sehat dan bahagia,” pungkasnya. (ak)
















































