BONTANGPOST.ID, Bontang – Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni meminta seluruh kelurahan bergerak aktif menekan angka stunting yang masih ditemukan hampir di seluruh wilayah Kota Bontang.
Hal itu disampaikan Neni sebelum rapat paripurna di Gedung DPRD Bontang, Rabu (13/5/2026).
Dalam pemaparannya, Neni menilai tingginya angka stunting di kota industri seperti Bontang menjadi persoalan serius yang harus segera ditangani bersama. Ia meminta seluruh kelurahan memanfaatkan program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) perusahaan untuk membantu intervensi stunting.
“Ironis sekali Kota Bontang masih ada stunting. Padahal banyak perusahaan di sini. Ini kesempatan kita bersama-sama melakukan intervensi melalui TJSL,” ujarnya.
Neni menegaskan lurah harus mengetahui secara detail kondisi dan lokasi anak stunting di wilayah masing-masing. Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan.
“Lurah harus tahu anak-anak stunting tinggal di mana. Ketua RT, kader, semua harus bergerak. Tidak bisa hanya diam,” katanya.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Kelurahan Loktuan menjadi wilayah dengan jumlah balita stunting tertinggi, yakni 190 anak.
Posisi berikutnya ditempati Tanjung Laut dengan 147 balita stunting dan Tanjung Laut Indah sebanyak 146 balita. Sementara Bontang Lestari tercatat memiliki 124 balita stunting dengan prevalensi mencapai 22,71 persen.
Selain itu, Berebas Tengah tercatat memiliki 117 balita stunting, Api-Api 112 balita, Gunung Elai 107 balita, Gunung Telihan 99 balita, Belimbing 93 balita, Guntung 83 balita, Berbas Pantai 80 balita, Bontang Baru 74 balita, Satimpo 51 balita, Bontang Kuala 45 balita, dan Kanaan 21 balita.
Secara keseluruhan, jumlah balita stunting di Kota Bontang masih mencapai 1.489 anak.
“Harusnya bisa diselesaikan. Tinggal ratusan anak saja tiap kelurahan. Kita evaluasi bersama, intervensi bersama,” tegasnya.
Khusus Kelurahan Guntung, Neni menilai angka 83 balita stunting semestinya dapat segera ditekan karena wilayah tersebut berada di sekitar kawasan industri dan perusahaan besar.
“Guntung dekat dengan perusahaan besar. Masa 83 anak tidak bisa diselesaikan? Tahun ini harus selesai,” katanya.
Meski demikian, Neni mengungkapkan prevalensi stunting di Kota Bontang terus mengalami penurunan sepanjang 2025. Jika pada 2024 berada di kisaran 20 persen, maka pada 2025 turun menjadi 17 persen.
Bahkan pada semester pertama 2025, angka stunting sempat menyentuh 15,9 persen. Dari sekitar 6.000 hingga 6.800 balita yang ditimbang, jumlah anak stunting disebut terus menurun setelah dilakukan intervensi intensif.
“Alhamdulillah November 2025 turun menjadi 15,69 persen. Harus bisa ditekan lagi,” pungkasnya. (*)


















































