BONTANGPOST.ID, Bontang – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Bontang menggelar kegiatan Parenting Keluarga, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengasuhan anak sekaligus memperkuat kesehatan mental keluarga di era digital.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengingatkan para orang tua agar tidak membiarkan penggunaan gadget secara berlebihan mengganggu tumbuh kembang anak.
“Anak adalah fondasi masa depan bangsa. Jangan biarkan anak kita hancur karena gadget. Biarkan saja dia menangis kalau minta HP, daripada dia kehilangan masa depannya,” tegas Neni.
Ia mengungkapkan, Pemerintah Kota Bontang telah menemukan sejumlah kasus anak yang mengalami gangguan kesehatan akibat penggunaan gadget yang tidak terkontrol.
“Ada kasus di Bontang anak-anak sampai juling gara-gara sering main HP. Kalau pun diberi HP, berikan yang edukatif dan batasi penggunaannya. Semua itu dimulai dari keluarga dan orang tua,” ujarnya.
Menurut Neni, perkembangan teknologi memang tidak dapat dihindari. Namun, orang tua memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan sesuai usia.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapat materi dari trainer kesehatan mental, Elisa Irmawati. Ia menjelaskan penggunaan gadget tanpa pengawasan dapat memicu berbagai persoalan pada anak, mulai dari temper tantrum, kecanduan gadget hingga 10–14 jam per hari, speech delay, sulit berkonsentrasi, hingga tantrum saat perangkat diambil.
“Zaman sekarang kita tidak bisa menghilangkan 100 persen anak agar tidak bermain HP. Tapi kita bisa meminimalisir penggunaannya dengan mengatur durasi dan memilih konten yang boleh diakses,” jelas Elisa.
Ia menegaskan anak belum memiliki kemampuan menyaring informasi sehingga membutuhkan pendampingan penuh dari orang tua.
“Anak itu belum tahu apa-apa, jadi kita orang tua yang wajib mengarahkan,” katanya.
Elisa juga memperkenalkan konsep tiga pilar pengasuhan di era digital atau M-B-L, yakni Mentorship (pendampingan), Boundaries (batasan), dan Literacy (literasi digital).
Pendampingan bertujuan membangun hubungan yang terbuka antara orang tua dan anak. Sementara batasan mengatur durasi maupun aturan penggunaan gadget di rumah. Adapun literasi digital membekali anak agar mampu menyaring informasi, menjaga privasi, memahami etika bermedia digital, serta menyadari jejak digital yang ditinggalkan di internet.
Sementara itu, Kepala DPK Bontang, Retno Febriaryanti, mengatakan kegiatan parenting merupakan program kolaborasi untuk mendukung upaya Pemerintah Kota Bontang meningkatkan kesehatan mental masyarakat.
“Parenting keluarga merupakan program kolaborasi, bukan program utama DPK. Kegiatan ini kami laksanakan untuk mendukung upaya Pemerintah Kota Bontang dalam meningkatkan kesehatan mental masyarakat,” ujarnya.
Menurut Retno, momentum kegiatan di perpustakaan dimanfaatkan untuk memberikan edukasi kepada para orang tua. Saat anak mengikuti lomba atau kegiatan literasi, orang tua yang menunggu diarahkan mengikuti sesi parenting sehingga waktu mereka lebih bermanfaat.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut terlaksana tanpa anggaran khusus karena melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya BNNK Bontang yang menghadirkan narasumber berkompeten.
“Tujuan utama parenting adalah meningkatkan kapasitas orang tua dalam mendidik anak. Kami meyakini kualitas pengasuhan akan sangat menentukan tumbuh kembang anak sehingga diharapkan lahir generasi Bontang yang berprestasi, berkarakter, dan berakhlak baik,” pungkasnya. (*)


















































