Pertamina Didesak Buka Penyebab Hujan Abu di Balikpapan, Warga Mengaku Sesak Napas

7 hours ago 8

BONTANGPOST.ID – Balikpapan kembali dipaksa menanggung bencana industri ekstraktif, kali ini, warga di sejumlah kawasan kecamatan Balikpaan Tengah dan Timur melaporkan adanya hujan abu yang diduga berasal dari aktivitas operasi kilang minyak Balikpapan, Refinery Development Master Plan (RDMP) yang berlangsung sejak selasa, tanggal 23 Juni 2026.

Partikel abu berwarna putih tersebut menempel di atap rumah, halaman, kendaraan hingga terhirup oleh masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di sekitar kawasan-kawasan yang dilaporkan tersebut.

Kesaksian warga Sumber Rejo, Balikpapan berinisial R, pada 23 juni 2026, pukul 13:30 WITA hingga esoknya, pukul 08:00 WITA, menceritakan bahwa ia merasakan langsung dampak hujan abu yang diduga berasal dari aktivitas kilang minyak.

“Iya saya melihat secara langsung abu itu beterbangan dan menempel di sekeliling rumah sejak siang pada Selasa bahkan sampai Rabu pagi saat saya memulai aktivitas,” tutur R. Padahal jarak rumahnya dengan kilang cukup jauh, sekira 4 kilometer.

Menurut R, kondisi tersebut membuat aktivitasnya selama dua hari menjadi terganggu. Setiap kali keluar rumah, debu beterbangan terbawa angin dan masuk ke dalam rumah melalui celah pintu maupun jendela.

Tidak hanya berdampak pada lingkungan, R mengaku dirinya dan anggota keluarganya mulai merasakan gangguan kesehatan. Tenggorokan terasa kering, gatal, dan perih setelah menghirup udara yang bercampur dengan partikel abu tersebut.

Kesaksian R menunjukkan bagaimana aktivitas industri berisiko tinggi dapat menghadirkan beban pencemaran langsung kepada warga. Ruang hidup masyarakat tidak boleh dijadikan zona yang dikorbankan atas nama pembangunan industri.

Peristiwa ini harus diusut secara terbuka, dengan pengujian kualitas udara yang independen serta jaminan pemulihan bagi warga yang merasakan dampak secara langsung.

Selain kesaksian R, juga terdapat kesaksian dari warga berinisal SI, perempuan petani kangkung di Kampung Kangkung, Sumber Rejo ini terkejut saat pulang ke rumah, pada hari kejadian ia dan juga warga lainnya menemukan teras rumah dan kendaraan roda duanya penuh dengan abu berwarna putih. SI tidak tahu dari mana datangnya abu tersebut.

“Kaget, saya kira ada gunung meletus. Tapi kan di Kalimantan ini gak ada gunung. Baca berita baru tahu ada abu dari Pertamina,” ungkap SI.

Tidak hanya tempat tinggal dan sekitarnya, kebun kangkung miliknya juga penuh dengan abu halus berwarna putih. “Sempat sesak nafas juga saya kemarin, ini beberapa hari ya pake masker terus,” keluhnya, sembari menunjukkan masker hitam yang dibawanya.

SI juga khawatir jika hujan abu ini terus menerus terjadi dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia dan tanaman kangkung miliknya.

Wilayah yang lebih dekat dengan kilang yakni warga RT 22, Kelurahan Karang Jati, Kecamatan Balikpapan Tengah. Mereka mengeluhkan abu tersebut mencemari pemukiman warga. Keluhan yang dirasakan warga yakni perih pada saluran pernapasan.

Beban tambahan yang harus diterima oleh warga adalah kerugian waktu dan energi harus terbuang. Warga berulang kali membersihkan rumah, halaman dan pakaian yang sudah terlanjur di jemur.

Sejumlah warung makan juga mengeluh karena abu dari corong asap kilang berterbangan mengotori tempat usaha mereka.

Peristiwa ini bukan sekedar gangguan kenyamanan, hujan abu merupakan alarm serius yang menunjukkan adanya potensi pencemaran lingkungan dan ancaman kesehatan bagi warga.

Partikel-partikel berbahaya yang beterbangan di udara dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan resiko gangguan Kesehatan terutama bagi anak-anak, lansia serta kelompok lainnya. Rangkaian bencana industri yang berulang ini sebelumnya juga melibatkan Pertamina sebagai dalang serupa pencemaran teluk Balikpapan dan menewaskan 5 orang nelayan pada 2018,

Berdasarkan hal tersebut JATAM Kaltim, NUGAL Institute, LBH Samarinda dan Trend Asia mendesak:

  1. Pertamina segera mengungkapkan penyebab utama insiden pencemarann “hujan abu/debu” dari kilang Pertamina pada Tanggal 23-24 Juni 2026 di Balikpapan Kalimantan Timur. Karena hingga saat ini Pertamina belum membuka secara rinci mulai dari;
    1. Kronologi lengkap kejadian insiden dan operasi yang memicunya.
    2. Hasil inspeksi, tindakan awal saat insiden dan pengambilan keputusan sebelum dan saat kejadian.
    3. Mengungkap rekaman closed circuit television (CCTV) dilokasi penanganan kejadian insiden.
    4. Membuka data log book, rekaman setiap tahapan penanganan insiden, protokol saat berkoordinasi dengan pemerintah dan masyarakat sekitar yang terdampak.
    5. Membuka kepada publik hasil uji lab.
  1. Pertamina harus secara transparan mengungkap AMDAL peningkatan produksi kilang, rencana Rencana Kerja dan Pengelolaan Lingkungan hingga tindakan awal penanganan dampak di lokasi insiden
  2. Mendesak Pemerintah Kota Balikpapan, Pemerintah Kalimantan Timur dan Pemerintah Pusat Untuk Membuka SOP dan Protokol penanganan Insiden dan tindakan awal penanganan insiden milik pemerintah dan langkah apa saja yang sudah ditempuh
  3. Mendesak pembentukan tim independen yang melibatkan masyarakat sipil untuk memastikan penyelidikam yang objektif, partisipatif dan transparan.

Publik berhak tahu faktor utama yang menjadi pemicu, apakah rencana kontijensi Pertamina dijalankan sesuai standar, atau tidak, dalam merespons kejadian ini guna mencegah terus jatuhnya korban jiwa.

JATAM Kaltim, NUGAL Institute, LBH Samarinda dan Trend Asia akan segera melayangkan permohonan informasi publik kepada Pertamina terkait penyebab utama dan kronologis rinci operasi yang memicu insiden ini. Permohonan ini mengikuti mekanisme Pasal 22 UU 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi. Publik. Kami mendesak dalam jangka waktu selambatnya sepuluh hari kerja, Pertamina harus memberikan informasi yang diminta. (rls)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |