BONTANGPOST.ID, Bontang – Bandara Badak LNG di Bontang kembali menjadi sorotan. Setelah sempat berhenti beroperasi sejak pertengahan 2025, kini muncul kabar segar bahwa bandara tersebut direncanakan menjalani renovasi total untuk menghidupkan kembali aktivitas penerbangan di wilayah industri tersebut.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan, langkah itu menjadi angin segar bagi iklim investasi di Kota Taman. Rencana tersebut mendapat dukungan anggaran dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) di bawah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan, sebesar sekitar Rp32 miliar.
Anggaran tersebut akan difokuskan pada pembenahan infrastruktur utama bandara, termasuk perpanjangan landasan pacu (runway).
Perpanjangan runway menjadi poin krusial. Dengan peningkatan tersebut, Bandara Badak LNG diharapkan mampu melayani penerbangan domestik secara lebih optimal dan tidak lagi terbatas seperti sebelumnya. Hal ini akan membuka aksesibilitas yang lebih luas bagi Bontang, terutama dalam mendukung mobilitas investor dan pelaku bisnis.
“Informasinya akan difungsikan kembali. Itu angin segar, karena kalau investor mau datang pasti yang pertama ditanyakan apakah ada bandara. Tolong itu dikejar agar bisa direalisasikan,” kata Neni.
Selama ini, akses menuju Bontang dinilai cukup menantang. Setelah layanan penerbangan dihentikan, perjalanan dari Balikpapan ke Bontang harus ditempuh melalui jalur darat dengan waktu lebih dari empat jam. Kondisi ini dianggap kurang efisien, terutama bagi tamu penting maupun investor.
Namun demikian, terdapat pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Izin operasional bandara diketahui hanya berlaku hingga 2027. Artinya, seluruh proses administrasi dan perizinan harus dipercepat agar rencana reaktivasi tidak terhambat.
Bandara Badak LNG sendiri resmi berhenti beroperasi pada 7 Juli 2025 setelah kontrak maskapai Pelita Air sebagai operator berakhir. Sejak saat itu, tidak ada lagi layanan penerbangan reguler.
Sebelumnya, bandara tersebut hanya melayani rute Bontang–Balikpapan dengan frekuensi beberapa kali dalam sepekan. Meski terbatas, keberadaannya mampu memangkas waktu perjalanan secara signifikan.
Neni berharap seluruh pihak dapat bergerak cepat. Menurutnya, keberadaan bandara bukan hanya soal transportasi, tetapi juga menjadi wajah kota di mata tamu dan investor.
“Kasihan juga tamu VIP kalau datang ke Bontang tidak punya landasan pacu,” ujarnya.
Sementara itu, Dinas PUPR Bontang telah mengkalkulasi kebutuhan anggaran renovasi. Kepala Dinas PUPR, Much Cholis Edi Prabowo, menyebut anggaran sekitar Rp32 miliar telah diajukan sejak Desember 2025 dan rencananya akan direalisasikan melalui LMAN.
Diketahui, panjang runway Bandara Badak LNG saat ini mencapai 1.020 x 23 meter. Sementara luas gedung terminal sekitar 1.551,29 meter persegi dan tower AFIS seluas 37,86 meter persegi. (ak)

















































