Polisi Ungkap Penyebab Warga Muara Badak Meninggal Usai Karhutla, Diduga Tertimpa Bangunan Walet

5 hours ago 4

BONTANGPOST.ID, Bontang  Polisi mengungkap penyebab warga berinisial RL (60) meninggal dunia setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Pangempang, Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, Selasa (22/9/2026).

RL diduga meninggal setelah tertimpa material bangunan sarang burung walet yang sebelumnya terbakar. Korban disebut bukan meninggal akibat terkena api karhutla secara langsung.

Kapolsek Muara Badak Iptu Sumartono mengatakan, saat kebakaran berlangsung, korban bersama keluarganya berada di sekitar lokasi dan menyaksikan bangunan sarang walet miliknya terbakar.

Setelah api padam, bangunan tersebut masih mengeluarkan asap dan menyisakan material yang panas. Korban kemudian mendatangi bangunan tersebut.

Istri korban sempat mengingatkan RL agar tidak mendekat karena kondisi bangunan dikhawatirkan masih panas. Namun, korban tetap berjalan menuju lokasi.

“Sempat diingatkan istrinya untuk tidak mendekat dulu. Tapi korban tetap mendekat,” kata Sumartono saat dihubungi, Rabu (23/9/2026).

Saat korban berada di sisi luar bangunan, bangunan sarang walet yang diperkirakan memiliki ketinggian sekitar lima meter tiba-tiba runtuh.

Material berupa batako dan kayu kemudian menimpa tubuh korban hingga tertutup reruntuhan. Korban diduga meninggal dunia di lokasi kejadian.

Sumartono menjelaskan, luka bakar yang ditemukan pada tubuh korban juga diduga berasal dari material bangunan yang masih panas, bukan akibat terkena api secara langsung.

“Kalau dikatakan korban karhutla, saya tidak sepakat. Bukan korban karhutla langsung, tapi lebih pada insiden bangunan hasil kebakaran tadi,” ujarnya.

Sementara itu, polisi masih menyelidiki penyebab awal karhutla yang merembet hingga membakar bangunan sarang walet tersebut.

Polisi belum menemukan indikasi pasti apakah kebakaran lahan sengaja dilakukan. Terlebih, kebakaran terjadi di area yang cukup luas dan api disebut sempat padam sebelum kembali menyala akibat embusan angin.

“Masih lidik. Kebakaran itu menyambung-menyambung. Dari sebelahnya kemarin terbakar, mati, hidup lagi. Apalagi kalau ada embusan angin, bisa hidup lagi,” pungkasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |