Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Bontang Meningkat, Loktuan Tertinggi

9 hours ago 12

BONTANGPOST.ID, Bontang – Alarm persoalan sosial di Kota Bontang semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat sepanjang 2025. Berdasarkan data terbaru UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Bontang, Kelurahan Loktuan menjadi wilayah dengan angka kasus tertinggi.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, mengakui tren kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami peningkatan dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

“Kalau perlu tidak ada yang ditangani karena memang tidak ada kasus. Tapi kenyataannya sekarang trennya meningkat,” ujar Neni.

Data UPTD PPA Kota Bontang 2025 mencatat Loktuan memiliki total 19 kasus kekerasan, terdiri dari satu kasus kekerasan terhadap perempuan dan 18 kasus kekerasan terhadap anak. Jumlah itu menjadi yang tertinggi dibanding kelurahan lain di Kota Bontang.

Posisi berikutnya ditempati Bontang Baru dengan 14 kasus, terdiri dari 5 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 9 kasus kekerasan terhadap anak. Sementara Berbas Tengah juga mencatat 14 kasus yang seluruhnya merupakan kekerasan terhadap anak.

Mayoritas kasus yang terjadi didominasi kekerasan terhadap anak. Di sejumlah wilayah, jumlah kasus terhadap anak jauh lebih tinggi dibanding kekerasan terhadap perempuan.

Kelurahan Tanjung Laut mencatat 11 kasus, terdiri dari satu kasus kekerasan terhadap perempuan dan 10 kasus terhadap anak. Kemudian Bontang Kuala mencatat 10 kasus, Api-Api 9 kasus, Gunung Elai 9 kasus, dan Bontang Lestari 8 kasus.

Sementara itu, Satimpo dan Bontang Baru pada 2025 telah ditetapkan sebagai Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak (KRPPA). Meski demikian, pemerintah menilai penguatan perlindungan dan edukasi tetap harus dilakukan secara berkelanjutan.

Neni mengatakan Pemkot Bontang telah memiliki peraturan daerah sebagai bentuk komitmen perlindungan perempuan dan anak. Pemerintah juga mendorong penguatan masyarakat melalui kelompok perlindungan berbasis komunitas.

“Sudah ada perda yang menjadi komitmen pemerintah untuk perlindungan perempuan dan anak. Bagaimana kita melakukan mitigasi dan penguatan berbasis masyarakat,” katanya.

Ia menilai persoalan ekonomi dan kemiskinan menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga maupun persoalan sosial lainnya.

“Kemiskinan memang bukan satu-satunya faktor, tetapi salah satu penyebab yang memengaruhi,” tuturnya.

Karena itu, Pemkot Bontang terus menjalankan berbagai program penanggulangan kemiskinan dengan harapan persoalan sosial ikut menurun.

Selain kasus kekerasan, Neni juga menyoroti meningkatnya keterlibatan anak-anak dan remaja dalam penyalahgunaan narkoba. Beberapa kasus bahkan sudah melibatkan pelajar usia SMP.

“Awalnya dikasih gratis, coba-coba, lalu ketagihan. Ini yang memprihatinkan karena anak-anak SMP juga mulai terpapar,” terangnya.

Menurut Neni, pengaruh pergaulan dan media sosial menjadi tantangan terbesar dalam melindungi generasi muda dari berbagai persoalan sosial.

Karena itu, Pemkot Bontang mendorong penguatan pendidikan karakter dan keagamaan di sekolah melalui kegiatan tadarus sebelum belajar hingga salat duha berjamaah.

“Saya berharap dengan penguatan iman dan takwa, anak-anak tidak mudah terpengaruh. Tetapi perkembangan teknologi sekarang memang pengaruhnya luar biasa,” pungkasnya. (ak)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |