Kisah Hainun dan Gaharu “Ajaib” dari Bontang; Dulu Hanya Ilalang, Kini Jadi Produk Ekspor

1 month ago 51

BONTANGPOST.ID, Bontang – Berawal dari semangat penghijauan, Hainun tak menyangka keputusannya menanam pohon gaharu di atas lahan kosongnya 13 tahun lalu mengantarkannya menjadi pelaku usaha berbasis lingkungan yang kini mulai menembus pasar ekspor.

Pada 2011, ketika Gubernur Kaltim saat itu, Awang Faroek Ishak, mencanangkan program “One Man Five Trees”. Hainun yang saat itu memiliki lahan tidur hanya ditumbuhi ilalang, memilih menanam pohon gaharu.

“Dari pada menanam tanaman yang tak punya nilai ekonomi, saya cari tanaman apa yang bisa. Ketemulah gaharu, yang disebut sebagai emas hijau,” kenangnya.

Dia pun menanam gaharu di dua lokasi seluas sekitar dua hektare. Sejak awal, tujuannya bukan sekadar bisnis.

“Saya ingin penghijauan, bersedekah pada alam. Menanam juga harus estetik, enak dipandang. Jadi memang ditanam itu rapi,” katanya.

Setelah usianya tiga tahun, per enam bulan, tanaman gaharu itu perlu dipangkas. Daun-daun dan ranting muda beraroma harum yang sebelumnya hanya dibuang, justru menginspirasi Hainun.

“Sekali dipangkas itu bertruk-truk, aduh sayang sekali. Saya coba lah cari-cari tahu, bisa dimanfaatkan jadi apa ya,” sambungnya.

Dia mulai membaca jurnal-jurnal ilmiah dan menemukan bahwa gaharu memiliki kandungan antioksidan tinggi, serta manfaat anti kanker dan anti radikal bebas.

Temuannya mengarah pada Malaysia, negara pertama yang mengembangkan gaharu sebagai minuman.

Hainun pun terbang ke Selangor, belajar langsung di sana. Lalu memulai eksperimen di rumah. “Saya mencoba membuat tehnya. Tapi kalau hanya kering, diseduh biasa, rasanya hambar. Saya ingin aroma khasnya keluar,” ujarnya.

Setelah bertahun-tahun riset, kegagalan demi kegagalan, akhirnya pada 2019 lahirlah CV Sekatup Sari Indonesia, UMKM yang tidak hanya menawarkan teh gaharu, tetapi juga kopi daun gaharu, cookies herbal, hingga produk gluten-free dari tepung daun gaharu, talas, dan gula aren. Produk itu telah dipasarkan di berbagai pameran dan marketplace.

Di balik rumah produksinya, tersimpan semangat ekonomi inklusif dan gender equality. “Lebih dari 60 persen karyawan kami ibu rumah tangga. Mulai dari proses pencucian, penjemuran, pengemasan, hingga produksi,” jelasnya.

Tak hanya itu, dia juga menggandeng kelompok wanita tani (KWT) untuk mengelola kebun gaharu. “Kami ingin produk ini bukan hanya mendatangkan rezeki, tapi juga memberdayakan masyarakat. Ini cara kami menjalankan prinsip SDGs,” tambahnya.

Kini Sekatup Sari tak hanya dikenal di Bontang. Produk mereka juga tersedia di toko oleh-oleh bandara, dan sempat dikirim ke Korea Selatan, Malaysia, hingga Arab Saudi sebagai sampel.

Dengan konsep green economy, dia berharap upayanya bisa memberi dampak ekonomi dan lingkungan sekaligus.

“Saya ingin usaha ini terus berkembang. Bukan cuma menjual produk, tapi menanam manfaat bagi masyarakat dan alam,” pungkas Hainun. (Roro/KP)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |