Festival Literasi Bontang Tak Sekadar Baca Buku, Ada Seni hingga Wirausaha

7 hours ago 4

BONTANGPOST.ID, Bontang Festival Literasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang 2026 resmi dibuka, Kamis (13/8/2026). Kegiatan yang berlangsung hingga 15 Agustus tersebut memadukan edukasi, seni, budaya, penguatan karakter, hingga kewirausahaan.

Festival dibuka Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris yang mewakili Wali Kota Bontang. Berbeda dari kegiatan literasi yang hanya berfokus pada membaca dan diskusi buku, Festival Literasi 2026 melibatkan pelajar, guru, komunitas, masyarakat hingga pelaku UMKM.

Dalam sambutannya, Agus Haris mengapresiasi pelaksanaan festival yang dinilai memberikan ruang positif bagi masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda, untuk mengembangkan pengetahuan dan kreativitas.

Menurutnya, kegiatan literasi perlu terus dikembangkan agar anak tidak hanya menghabiskan waktu dengan gawai. Perpaduan literasi dengan seni dan budaya dinilai dapat menciptakan keseimbangan aktivitas sekaligus membangun karakter anak.

“Festival Literasi bukan sekadar sebuah kegiatan, melainkan bagian dari upaya kita membangun budaya belajar dan menyiapkan sumber daya manusia Kota Bontang yang unggul, cerdas, adaptif, dan tentunya berkarakter mulia,” ujar Agus Haris, Kamis (13/8/2026).

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam mendukung gerakan literasi. Terlebih, kondisi fiskal daerah saat ini menghadapi efisiensi dan keterbatasan APBD.

Agus meminta Bunda Literasi di tingkat kecamatan dan kelurahan tidak hanya menjalankan peran secara seremonial. Peran tersebut diharapkan diwujudkan melalui kegiatan nyata, seperti menggerakkan komunitas, meningkatkan minat baca anak, serta mendorong keluarga membangun kebiasaan belajar di rumah.

“Pengetahuan tidak ada batasnya. Tidak ada ujungnya ini soal ilmu pengetahuan,” katanya.

Ia berharap Festival Literasi tidak berhenti setelah tiga hari pelaksanaan. Budaya literasi, menurutnya, harus terus tumbuh di lingkungan keluarga, sekolah, komunitas, dunia usaha hingga masyarakat.

“Kegiatan seperti ini harus dipertahankan, bahkan harus ditingkatkan. Kita ingin budaya literasi menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban akademis atau pemenuhan tugas,” tuturnya.

Hadirkan 16 Agenda

Kepala DPK Kota Bontang Retno Febriaryanti mengatakan Festival Literasi 2026 dirancang dengan 16 agenda utama selama tiga hari. Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam kepada masyarakat.

Pada hari pertama, sejumlah agenda digelar sejak pagi hingga malam. Di antaranya bedah buku Peta Rahasia bersama Forum Lingkar Pena, kelas parenting, Speak a Story untuk literasi dan public speaking anak, Perpustakaan Bareng, Literasi Rimba Raya, hingga pertunjukan tari dan karaoke.

Agenda lainnya meliputi workshop menjadi ibu yang dirindukan anak melalui cerita, pelatihan mendongeng bagi siswa SD, seminar Make-Up Cosplay Magical Fairy, workshop menulis cerita anak dan ilustrasi, nobar dan diskusi Book Party, workshop Panji Beber dan Manuskrip Nusantara, Bermain Bersama Ayah, Red Flag and Golden Period bersama dokter anak, serta workshop Bookmark Dried Flower.

Festival juga menghadirkan penulis nasional Asma Nadia sebagai bintang tamu. Ia dijadwalkan hadir pada Sabtu (15/8) untuk berbagi pengalaman mengenai kepenulisan dan literasi bersama masyarakat, generasi muda dan penggiat literasi.

Retno menjelaskan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya DPK mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat. Perpustakaan tidak lagi hanya diposisikan sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga ruang terbuka untuk belajar, bertukar informasi, mengembangkan kreativitas, berekreasi serta menjalankan aktivitas seni dan budaya.

Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris bersama jajaran saat membuka Festival Literasi 2026 DPK Bontang, Kamis (13/8/2026).

Festival Literasi 2026 juga menjadi ruang kolaborasi berbagai pihak. Dukungan diberikan sejumlah perusahaan, di antaranya PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Indominco Mandiri, PT Badak, KIE, Koperasi Praja Sejahtera, Bank Kaltimtara, PT Gramedia dan Smart.

Retno berharap dukungan DAK Nonfisik dari Perpusnas RI sekitar Rp300 juta dapat kembali diperoleh pada 2027. Dukungan tersebut dinilai membantu pelaksanaan program literasi, khususnya di tengah efisiensi anggaran daerah.

Ia juga menyampaikan capaian Bontang yang berhasil meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) hingga berada di peringkat keempat nasional dan tertinggi di Kalimantan Timur merupakan hasil kerja bersama.

“Karena itu, kita terus berupaya melahirkan gerakan literasi semakin luas dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat,” tandasnya.

Pelajar Belajar Berwirausaha

Semangat memperluas makna literasi juga terlihat dari keterlibatan sekolah. Salah satunya SMPN 9 Bontang yang menjadi binaan Mitra Kaltim Methanol Industri (KMI) dalam program Festival Literasi.

Guru pendamping SMPN 9 Bontang, Sri Sumaryati, mengatakan keikutsertaan sekolah dalam festival menjadi pengalaman pertama bagi mereka. Siswa mendapat kesempatan memperkenalkan berbagai hasil karya sekaligus belajar mengenalkan produk dan mengembangkan kemampuan kewirausahaan.

Produk yang ditampilkan di stan SMPN 9 Bontang antara lain batik wanyi, amplang, produk jamu, pupuk kompos dan keripik.

“Untuk SMP 9 baru pertama, tanggapannya baik. Bisa memperkenalkan karya anak-anak untuk mengembangkan literasi dan wirausaha,” ujarnya.

Menurut Sri, konsep festival yang menggabungkan literasi dengan kewirausahaan memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan memahami informasi, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut diolah menjadi karya dan diperkenalkan kepada masyarakat.

“Alhamdulillah ini jadi pengalaman luar biasa bagi anak-anak,” tandasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |