Kabut Asap Karhutla Kaltim Makin Pekat, Siswa SD Diusulkan Belajar Daring

1 day ago 19

BONTANGPOST.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Timur memburuk mulai menjadi perhatian terhadap aktivitas belajar siswa.

Pengamat pendidikan dari Universitas Widya Gama Mahakam (UWGM) Samarinda, Muhammad Ikhsan, menilai pembelajaran jarak jauh (PJJ) perlu segera dipertimbangkan, khususnya bagi siswa sekolah dasar (SD) yang dinilai lebih rentan terhadap paparan polusi udara.

Menurutnya, jika kualitas udara sudah berada pada kategori sangat tidak sehat, pembelajaran tatap muka sebaiknya tidak dipaksakan. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap.

“Ambang batas sudah terpenuhi untuk kualitas sangat buruk, sudah harus segera, apalagi kepada sekolah-sekolah yang terkhusus kelompok rentan,” ujar Ikhsan, Minggu (6/9/2026).

Ikhsan mengatakan penerapan PJJ sebenarnya bukan hal baru bagi sekolah. Pengalaman selama pandemi Covid-19 dinilai telah membuat guru dan siswa lebih terbiasa dengan pembelajaran dari rumah, termasuk penggunaan berbagai media pembelajaran digital.

“Kita sudah pernah melewati masa-masa Covid, jadi saya kira PJJ ini sudah tidak asing lagi. Untuk PJJ sendiri bukan kendala utama tentunya untuk proses pembelajaran tanpa mengurangi kualitas,” tuturnya.

Namun, ia mengingatkan PJJ tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan gawai dan koneksi internet. Kesiapan guru dalam menyusun metode pembelajaran juga menjadi faktor penting agar siswa tetap dapat memahami materi dengan baik.

“Bukan berarti hanya internet sama laptop saja, tapi struktur dari kompetensi pedagogis mereka yang perlu diingatkan kembali untuk diperbaiki atau dikembangkan,” jelasnya.

Di sisi lain, Ikhsan mengapresiasi langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) serta tenaga pendidik di Kaltim yang semakin memanfaatkan media pembelajaran digital interaktif.

Menurutnya, kondisi karhutla juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran kontekstual. Guru dapat mengaitkan materi dengan kondisi lingkungan yang sedang terjadi, seperti ekosistem gambut, penyebab kebakaran hutan, hingga pentingnya menjaga kesehatan saat kualitas udara menurun.

“Itu sebenarnya bisa jadi bahan ajar sendiri. Kejadian karhutla bisa dijadikan bahan ajar untuk melatih kepada siswa bagaimana ekosistem gambut, kebakaran hutan, menjaga kesehatan, memakai masker,” imbuhnya.

Ikhsan juga menilai kekhawatiran terhadap penurunan kualitas pembelajaran selama PJJ tidak perlu berlebihan apabila penerapannya hanya dilakukan sementara.

Menurutnya, kondisi karhutla umumnya berlangsung dalam periode yang lebih singkat dibandingkan pandemi Covid-19. Karena itu, pembelajaran jarak jauh selama kondisi udara memburuk dinilai masih dapat diterapkan dengan menyesuaikan situasi di lapangan.

“Karhutla ini berbeda dengan Covid-19 yang membutuhkan waktu yang sangat panjang. Pengaruhnya bisa kita ukur. Karhutla ini saya kira masanya lebih pendek, jadi dampak-dampak negatif dari PJJ saya kira belum bisa terukur,” ungkapnya.

Ia mendorong dinas terkait untuk terus memantau indeks kualitas udara secara berkala. Hasil pemantauan tersebut dinilai penting menjadi dasar dalam menentukan kebijakan pembelajaran, terutama untuk melindungi siswa yang termasuk kelompok rentan. (KP)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |