DBD Bontang Naik-Turun, Angka Tertinggi Pernah Capai 588 Kasus

1 day ago 14

BONTANGPOST.ID, Bontang – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai di Bontang. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang menunjukkan, kasus DBD terus muncul dari tahun ke tahun dengan jumlah yang naik-turun.

Bahkan, dalam dua dekade terakhir, kasus DBD di Bontang pernah mencapai 588 kasus dalam setahun. Angka tersebut tercatat pada 2021 dan menjadi salah satu periode dengan kasus tertinggi.

Data Dinkes menunjukkan, pada periode 2006 hingga 2016, jumlah kasus DBD berada pada rentang 33 hingga 315 kasus per tahun. Fluktuasi kasus juga diikuti dengan adanya kematian pada sejumlah tahun.

Pada 2006 tercatat 146 kasus tanpa kematian. Setahun kemudian, kasus meningkat menjadi 202 tanpa kematian. Namun pada 2008, dari 150 kasus yang tercatat, empat pasien meninggal dunia.

Kasus kemudian kembali meningkat pada 2009. Dari 188 kasus DBD, tercatat enam kematian. Pada 2010 terdapat 189 kasus dengan satu kematian.

Setahun berikutnya, jumlah kasus turun cukup tajam menjadi 33 kasus. Meski demikian, satu kematian masih tercatat pada tahun tersebut.

Kasus kembali meningkat pada 2012 dengan 127 kasus dan tiga kematian. Kemudian pada 2013 terdapat 190 kasus dengan tiga kematian, disusul 192 kasus dan tiga kematian pada 2014.

Pada 2015, Dinkes mencatat 231 kasus dengan dua kematian. Setahun kemudian, kasus kembali melonjak menjadi 315 dengan enam kematian.

Memasuki 2020, tercatat 269 kasus tanpa kematian. Angka tersebut kemudian melonjak lebih dari dua kali lipat pada 2021 menjadi 588 kasus.

Tahun 2022 juga masih berada pada angka tinggi dengan 585 kasus. Setelah itu, kasus mulai menurun menjadi 457 pada 2023.

Namun, tren penurunan kembali berubah pada 2024. Jumlah kasus meningkat menjadi 558 dengan satu kematian.

Pada 2025, kasus DBD kembali turun menjadi 328 kasus. Meski jumlah kasus lebih rendah dibandingkan dua tahun sebelumnya, tetap tercatat dua kematian.

Kasus 2026 Capai 131

Memasuki 2026, Dinkes Bontang mencatat 131 kasus DBD sepanjang Januari hingga Agustus.

Kelurahan Tanjung Laut Indah menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 31 kasus. Berikutnya Tanjung Laut dengan 19 kasus, Berebas Tengah 12 kasus, Gunung Telihan 11 kasus, dan Belimbing 10 kasus.

Data tersebut menunjukkan kasus DBD masih ditemukan di sejumlah wilayah Bontang meski jumlahnya belum setinggi beberapa tahun sebelumnya.

Pola kasus juga berubah setiap tahunnya. Pada 2021, misalnya, kasus tertinggi terjadi pada April dengan 89 kasus, disusul Maret sebanyak 87 kasus dan Mei 70 kasus.

Sementara pada 2022, kasus tertinggi terjadi pada Agustus dengan 71 kasus. Pada 2023, puncak kasus tercatat pada Mei sebanyak 55 kasus.

Pada 2024, Januari menjadi bulan dengan kasus tertinggi, yakni 79 kasus. Sedangkan pada 2025, peningkatan kasus justru terlihat menjelang akhir tahun, dengan 61 kasus pada November dan 55 kasus pada Oktober.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa DBD tidak selalu mengikuti pola waktu yang sama setiap tahun. Karena itu, kewaspadaan dan upaya pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Selain pola tahunan, sejumlah kelurahan juga tercatat berulang kali menjadi wilayah dengan kasus relatif tinggi. Tanjung Laut dan Loktuan termasuk wilayah yang beberapa kali masuk dalam kelompok dengan kasus tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, pengendalian DBD tetap harus mengutamakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Menurutnya, program Wolbachia yang diterapkan di Bontang merupakan upaya tambahan dalam pengendalian DBD. Masyarakat tetap memiliki peran penting dalam mencegah berkembangnya nyamuk Aedes aegypti di lingkungan tempat tinggal.

“Program Wolbachia ini sebenarnya program tambahan. Program utama tetap pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus,” pungkas Toetoek.

Upaya tersebut meliputi menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup wadah yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang yang berpotensi menampung air.

Dengan masih ditemukannya kasus hingga Agustus 2026, Dinkes mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap DBD sebagai penyakit yang hanya muncul pada periode tertentu. Pencegahan dari lingkungan rumah tetap menjadi langkah penting untuk menekan penularan. (ak)

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |