BONTANGPOST.ID, Bontang – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bontang menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Hingga Agustus 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang mencatat 131 kasus.
Kepala Dinkes Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, angka tersebut menunjukkan perkembangan kasus DBD di Kota Taman cenderung menurun. Program pengendalian nyamuk ber-Wolbachia menjadi salah satu upaya yang telah dilakukan dan kini memasuki tahap pemantauan.
Penyebaran nyamuk ber-Wolbachia di Bontang berlangsung sejak Oktober 2023 hingga Agustus 2024. Setelah tahap penyebaran selesai, Dinkes mulai melakukan monitoring pada 2025 hingga saat ini.
“Mulai 2025 kami melakukan monitoring Wolbachia. Dari perkembangan kasus DBD, trennya memang mengalami penurunan,” kata Toetoek, Kamis (13/8/2026).
Berdasarkan data Dinkes, Bontang mencatat 588 kasus DBD pada 2022. Jumlah tersebut turun menjadi 459 kasus pada 2023.
Pada 2024, ketika proses penyebaran nyamuk ber-Wolbachia berlangsung, tercatat 559 kasus. Setahun kemudian, angka tersebut kembali turun menjadi 325 kasus.
Sementara sepanjang Januari hingga Agustus 2026, sebanyak 131 kasus DBD telah dilaporkan.
Kasus terbanyak tercatat di Kelurahan Tanjung Laut Indah dengan 31 kasus. Kemudian Tanjung Laut 19 kasus, Berebas Tengah 12 kasus, Gunung Telihan 11 kasus, dan Belimbing 10 kasus.
Kasus DBD tercatat tersebar di 15 kelurahan. Jumlah paling sedikit ditemukan di Satimpo dengan satu kasus.
Meski angka 2026 masih dapat berubah karena tahun belum berakhir, Toetoek menyebut perkembangan secara umum menunjukkan tren penurunan.
“Kalau dari kasus DBD-nya sendiri terjadi penurunan,” ucapnya.
Program Wolbachia merupakan salah satu pendekatan pengendalian DBD dengan memanfaatkan bakteri Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti. Setelah penyebaran dilakukan, Dinkes melanjutkan pemantauan untuk melihat perkembangan kasus di masyarakat.
Namun, penurunan kasus tersebut tidak membuat kewaspadaan diturunkan. Setiap laporan DBD, khususnya kasus berat maupun kematian yang diduga berkaitan dengan penyakit tersebut, tetap menjadi perhatian.
Toetoek menegaskan, kematian seseorang tidak bisa langsung dinyatakan disebabkan DBD hanya berdasarkan diagnosis awal. Diperlukan keterangan dari dokter penanggung jawab pelayanan untuk memastikan penyebab medisnya.
Hal tersebut menyusul laporan meninggalnya seorang anak berusia enam tahun di wilayah Tanjung Laut yang sebelumnya menjalani perawatan dan dirujuk ke RSUD Bontang.
Dinkes masih menunggu laporan resmi dari rumah sakit mengenai penyebab pasti kematian tersebut. Hingga laporan medis diterima, Dinkes belum dapat memastikan apakah kematian itu disebabkan DBD atau dipengaruhi penyakit penyerta.
“Penyebab pastinya belum kami terima. Dinkes belum mendapatkan laporan mengenai penyebab kematian tersebut,” tutur Toetoek.
Karena itu, masyarakat tetap diminta waspada meski tren kasus DBD menurun. Pemberantasan sarang nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala yang mengarah ke DBD tetap penting dilakukan.
Dinkes juga akan terus memantau perkembangan kasus DBD di seluruh wilayah Bontang sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit menular. (riz)


















































