BONTANGPOST.ID, Marangkayu – Selama hampir satu dekade, pelajar di RT 18, Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, masih mengandalkan jembatan gantung sederhana untuk berangkat ke sekolah setiap hari.
Dalam video yang kembali beredar di media sosial, terlihat sejumlah siswa berseragam SD bergantian menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung sederhana yang digerakkan secara manual dengan menarik tali. Akses tersebut menjadi jalur utama menuju RT 09 sebelum melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Meski membentang di atas sungai yang dikenal sebagai habitat buaya, warga tetap memilih jalur tersebut karena dapat memangkas waktu tempuh secara signifikan.
Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, menjelaskan video yang viral merupakan dokumentasi lama. Namun hingga kini kondisi di lapangan belum berubah dan jembatan tersebut masih menjadi akses utama warga, terutama anak-anak sekolah.
“Kalau memutar lewat jalan lain, waktu tempuh bisa sekitar satu jam. Tapi kalau lewat jembatan ini hanya sekitar 15 menit,” ujarnya saat ditemui, Jumat (17/7/2026).
Menurut Heri, jembatan itu digunakan pelajar mulai jenjang SD hingga SMA. Mereka menyeberang ke RT 09 untuk melanjutkan perjalanan menuju SDN 21 yang berada di RT 06 Desa Santan Ulu.
Jembatan tersebut dibangun sekitar 10 tahun lalu sebagai akses pekerja perkebunan. Namun setelah aktivitas perkebunan berhenti karena kawasan tersebut masuk hutan lindung, RT 18 berkembang menjadi permukiman sehingga jembatan beralih fungsi menjadi akses harian warga.
Selama ini, perawatan jembatan dilakukan secara swadaya. Warga bergotong royong memperbaiki bagian yang rusak agar tetap aman digunakan.
Heri menyebut pembangunan jembatan permanen diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp500 juta. Sementara dana desa yang diterima setiap tahun sekitar Rp1 miliar harus dibagi untuk berbagai kebutuhan lain, mulai dari operasional posyandu, perbaikan jalan lingkungan, pengadaan ATK, hingga program di sekitar 20 RT.
Karena itu, pihaknya berharap ada dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara maupun pemerintah pusat.
“Kami sudah beberapa kali mengusulkan pembangunan jembatan melalui pemerintah kecamatan,” katanya.
Ia mengungkapkan, pada 2024 lalu lokasi tersebut sempat ditinjau oleh Bupati Kutai Kartanegara saat itu, Edi Damansyah, setelah videonya viral di media sosial. Namun hingga kini pembangunan jembatan permanen belum juga terealisasi.
Meski demikian, akses jalan menuju jembatan mulai mendapat perbaikan melalui bantuan pokok pikiran (Pokir) anggota DPRD Kutai Kartanegara, Sarifuddin.
Heri berharap pemerintah segera membangun jembatan yang lebih layak dan aman agar warga, khususnya para pelajar, tidak lagi mempertaruhkan keselamatan saat menyeberangi sungai untuk bersekolah.
“Harapan kami, akses yang aman bagi anak-anak sekolah bisa menjadi prioritas pemerintah,” tutupnya. (*)















































