BONTANGPOST.ID, Bontang – Sebanyak 350 prajurit TNI dari Satuan Tugas (Satgas) Yon Arhanud 7/ABC menjalani latihan intensif di Bontang sebagai persiapan sebelum diberangkatkan menjaga perbatasan darat Indonesia-Malaysia di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara selama satu tahun.
Wakil Komandan Latihan Kolonel Inf Rudy Sandry mengatakan, pembekalan tersebut merupakan bagian dari kesiapan personel menghadapi operasi pengamanan di wilayah perbatasan. Daerah penugasan meliputi Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, hingga sejumlah wilayah di Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Menurut Rudy, materi latihan tidak hanya berfokus pada kemampuan tempur. Para prajurit juga dibekali pengetahuan mengenai penanganan pelintas batas ilegal, pencegahan penyelundupan, hingga pengamanan patok batas negara.
“Yang kami siapkan bukan hanya kemampuan tempur. Prajurit juga harus memahami prosedur hukum di perbatasan, penanganan pelintas batas ilegal, sampai memastikan patok batas negara tetap berada pada posisinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, latihan penggunaan senjata dilakukan secara bertahap. Selama dua pekan pertama, personel difokuskan pada pengenalan dan penguasaan senjata tanpa penembakan. Setelah itu, mereka menjalani latihan menembak sebagai penyegaran kemampuan sebelum diterjunkan ke daerah operasi.
Sementara itu, Komandan Batalyon Arhanud 7/ABC Letkol Arh Bayu Adiwisuda memastikan seluruh personel yang mengikuti latihan akan diberangkatkan ke wilayah penugasan, termasuk dirinya sebagai komandan satuan.
“Sebanyak 350 personel itu termasuk saya. Ini merupakan suatu kehormatan bagi kami karena dipercaya mengemban tugas menjaga perbatasan negara,” katanya.
Selain menjalankan tugas pengamanan, Satgas Yon Arhanud 7/ABC juga membawa program pembinaan teritorial bagi masyarakat di wilayah perbatasan. Program tersebut meliputi dukungan pendidikan Paket A, B, dan C melalui koordinasi dengan pemerintah daerah.
Satgas juga menggandeng sejumlah instansi untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat. Dinas Kesehatan akan mendukung penyediaan obat-obatan untuk layanan kesehatan gratis, sementara bantuan buku, alat tulis, dan tas sekolah disiapkan bagi anak-anak di wilayah penugasan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait agar program itu bisa berjalan,” jelas Bayu.
Rencananya, seluruh personel akan menjalankan tugas selama kurang lebih satu tahun sebelum kembali ke satuan dan digantikan oleh personel berikutnya.
“Menjaga perbatasan bukan hanya soal keamanan wilayah. Kami juga ingin memastikan negara hadir bagi masyarakat melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan teritorial selama bertugas di sana,” pungkasnya. (*)















































