Sekolah Dasar di Bontang Digagas Jadi Simpul Ketahanan Pangan Keluarga

7 hours ago 6

BONTANGPOST.ID – Program pertanian di halaman sekolah dasar selama ini kerap dipandang sekadar kegiatan ekstrakurikuler biasa atau hiasan hijau pelengkap keindahan sekolah semata. Namun, sebuah riset doktoral yang progresif dari Ahmad Aznem, mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman, menunjukkan bahwa sekolah dasar berpotensi menjadi simpul strategis dalam menjaga ketahanan pangan keluarga siswa sekaligus mendukung nyata upaya pencegahan stunting di daerah.

Penelitian ini bertolak dari Program Bessai Berinta, akronim dari Bersama Atasi Stunting dan Inflasi dengan Bertani Terintegrasi, sebuah program pertanian terintegrasi yang dioperasikan Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3).

Program ini sebenarnya telah menjangkau sejumlah sekolah dasar melalui gerakan Smart Tani Goes To School. Namun, studi pendahuluan menemukan bahwa pengelolaan program tersebut di tingkat satuan pendidikan selama ini berjalan tanpa didukung panduan manajemen yang baku. Dampaknya, otonomi sekolah belum terstruktur, partisipasi orang tua rendah, dan kolaborasi lintas sektor antara pihak sekolah dengan DKP3 Kota Bontang belum berjalan secara optimal.

 Model IFS-SBM: Enam Komponen Utuh

Untuk menjawab kesenjangan manajerial tersebut, penelitian R&D ini menghasilkan sebuah cetak biru tata kelola baru bernama Integrated Food Security School-Based Management (IFS-SBM). Model ini merangkum enam komponen operasional yang saling bertautan secara kausal:

  1. Perumusan visi dan tujuan program yang terukur.
  2. Struktur organisasi sekolah dan pembagian peran yang terdistribusi.
  3. Perencanaan program yang terintegrasi di dokumen RKS dan RKAS resmi sekolah.
  4. Pelaksanaan praktis dan koordinasi lintas sektor yang efisien.
  5. Pemberdayaan komunitas domestik dan orang tua murid.
  6. Monitoring, evaluasi berkala, serta pelaporan berbasis data riil.

Model ini dikembangkan secara ketat melalui pendekatan Research and Development (R&D) ala Borg & Gall (1983) yang diadaptasi ke dalam tiga fase utama: studi pendahuluan, pengembangan model konseptual, serta fase validasi ahli dan uji coba lapangan. Metode penelitian campuran (mixed methods) ini diujicobakan secara riil di tiga lokus sekolah dasar negeri yang mewakili tipologi geografi berbeda di Kota Bontang, yaitu SDN 009 Bontang Utara (Urban Padat), SDN 005 Berbas Pantai (Pesisir), dan SDN 002 Bontang Barat (Hinterland).

“Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada perluasan paradigma Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Kebijakan desentralisasi pendidikan tidak boleh lagi hanya berhenti pada orientasi mutu kurikulum tekstual di dalam kelas, melainkan harus meluas hingga menyentuh tata kelola sekolah sebagai pusat penguatan ketahanan pangan dan gizi keluarga siswa di rumah,” kata Ahmad Aznem.

Teruji Valid dan Praktis di Lapangan

Berdasarkan hasil uji penilaian instrumen, para pakar memberikan legitimasi akademik yang sangat tinggi. Model IFS-SBM ini dinyatakan berada pada kategori sangat valid dengan skor kevalidan konten mencapai 92,8 persen, kevalidan konstruk sebesar 90,0 persen, dan tingkat kepraktisan operasional sebesar 91,7 persen.

Uji coba lapangan secara nyata membuktikan efektivitas model ini. Indikator keterlaksanaan komponen manajerial di sekolah berjalan mulus, produksi pangan mandiri di pekarangan sekolah berjalan produktif, dan yang paling impresif adalah terjadi kenaikan kepemilikan tanaman pangan di pekarangan keluarga siswa sebesar 18,5 poin persentase pada gabungan tiga sekolah pasca-program.

Meski demikian, riset ini bersikap jujur dan transparan secara ilmiah. Peneliti mencatat bahwa dampak model terhadap pengetahuan gizi makro dan skor ketahanan pangan akses rumah tangga (Household Food Insecurity Access Scale) belum menunjukkan signifikansi statistik yang tinggi dalam rentang uji coba lapangan yang relatif singkat (April–Juni 2026). Catatan keterbatasan waktu inilah yang menjadi landasan kuat bagi rekomendasi kebijakan berikutnya untuk memperluas skala dan durasi implementasi pada masa mendatang.

Riset ilmiah ini disusun di bawah bimbingan dan arahan ketat tim promotor Universitas Mulawarman, yakni Prof. Dr. Hasbi Sjamsir, M.Hum. selaku Promotor dan Dr. H. Usfandi Haryaka, M.Pd. selaku Co-Promotor.

Model IFS-SBM ini diharapkan tidak hanya menjadi pemenuhan syarat kelulusan akademik, melainkan menjadi dokumen kebijakan (policy brief) yang diadopsi secara luas oleh pemerintah daerah dalam menyusun sistem ketahanan pangan berbasis sekolah yang terstruktur, kolaboratif, akuntabel, dan berkelanjutan. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Read Entire Article
Batam Now| Bontang Now | | |