BONTANGPOST.ID, Bontang – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang terus memperluas gerakan literasi dengan menggandeng berbagai komunitas untuk mengampanyekan metode membaca nyaring atau read aloud kepada anak-anak dan keluarga.
Program tersebut menjadi salah satu upaya DPK dalam meningkatkan minat baca sejak usia dini sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak melalui aktivitas membaca bersama.
Kepala Bidang Perpustakaan DPK Bontang, Indra Nopika Wijaya, mengatakan keterlibatan komunitas literasi menjadi strategi penting untuk menjangkau masyarakat lebih luas dan menumbuhkan budaya membaca di lingkungan keluarga.
“Melalui komunitas yang telah kami bentuk maupun komunitas yang sudah menjalin kerja sama dengan DPK, kami berupaya meningkatkan minat baca masyarakat melalui kegiatan membaca nyaring, bercerita, dan mendongeng,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Menurut Indra, komunitas memiliki peran strategis karena mampu menghadirkan kegiatan literasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Berbagai program seperti membaca nyaring, pelatihan literasi, hingga kegiatan mendongeng rutin dilaksanakan di perpustakaan maupun di lingkungan permukiman.
DPK juga membuka ruang bagi komunitas untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan sebagai lokasi kegiatan dan pengembangan program literasi.
“Kami memberikan kesempatan kepada komunitas untuk menggunakan fasilitas perpustakaan sebagai tempat berkegiatan dan berbagi pengetahuan kepada masyarakat,” katanya.
Indra menjelaskan, metode membaca nyaring terbukti efektif membantu perkembangan kemampuan bahasa anak, meningkatkan daya imajinasi, serta memperkuat ikatan emosional antara anak dan orang tua.
Selain itu, para relawan komunitas turut memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya memilih bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
Melalui kolaborasi yang terus diperkuat, DPK Bontang berharap budaya membaca dapat tumbuh dari lingkungan keluarga dan menjadi kebiasaan positif yang berkelanjutan di tengah masyarakat.
“Harapannya, budaya membaca tidak hanya berkembang di sekolah atau perpustakaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga,” pungkasnya. (*)


















































